Do’a Nabi Ibrahim & Pisang Cavendish
Oleh : Dr. Nasrullah, M.Pd.
Jemaah haji Kab. 50 Kota, Sumbar, tahun 2012 dan 2025
Pensiunan Guru SMA Situjuh, Alumni Program Doktor (S3)
Pendidikan Islam UIN
Imam Bonjol, Padang

Untuk melengkapi menu makanan di
tanah suci, jemaah selalu disediakan buah-buahan. Buah-buahan itu adalah jeruk,
apel dan pisang yang diberikan secara bergantian. Jika dicermati, diantara ke
tiga buah-buahan itu, buah pisang terungkap jelas dalam Al Qur’an, seperti yang
terdapat dalam suarat Al Waqiah ayat 29, yang artinya : Dan pohon pisang yang bersusun buahnya. Pisang juga merupakan
buah-buahan yang paling banyak dan paling mudah ditemukan di berbagai tempat di
daerah kita. Berbagai macam jenis dan beraneka pula nama dan rasanya. Bahkan
produksi pisang negara kita mencapai 9,26 juta ton pada tahun 2024 (Sumber
BPS).
Namun, pisang
yang disediakan di tanah suci adalah pisang cavendish. Pisang ini memiliki warna kulit buah kuning
cerah, rasanya sangat enak dan gurih serta dapat diterima lidah siapa saja.
Sehingga sangat disukai dan dapat memenuhi kebutuhan gizi serta memuaskan
selera jemaah haji dari seluruh dunia umumnya dan jemaah haji Indonesia
khususnya. Sehingga sangat tepat sekali kebijakan pengelola ibadah haji untuk
mendatangkan ribuan ton pisang tersebut ke Arab Saudi.
Pertanyaan
yang mengemuka adalah, dari manakah pisang itu di datangkan? Apakah dari negara
kita yang memiliki aneka ragam pisang dan dapat memproduksi jutaan ton pisang
setiap tahun. Ternyata tidak. Ditelusuri dari kardus pisang yang ditemukan atau
dari observasi di beberapa tempat pendistribusiannya, secara acak, baik itu di
Makkah maupun Madinah, ternyata pisang itu diimpor dari negara kecil yang
bernama Ecuador. Di kardusnya tertulis product
of Ecuador.
Ecuador
merupakan negara kecil yang terletak di bagian barat laut benua Amerika. Bagian
utaranya berbatasan dengan Kolombia, bagian timur dan selatan berbatasan dengan
Peru dan bagian barat berbatasan dengan Samudera Pasifik. Luasnya 283.560 km2
dan penduduknya tahun 2025 diperkirakan sekitar 18,24 juta jiwa. (Sumber :
Wikipedia). Dibanding dengan Indonesia yang memiliki luas 5.180.053 km2
dan memiliki penduduk 273,2 juta jiwa, jelas Ecuador sangat kecil.
Meskipun
hanya merupakan negara kecil, namun kemampuan Ecuador mengekspor pisang ke
berbagai negara, diantaranya ke Arab Saudi patut di cermati. Artinya harus berupaya membuka mata untuk mengamati
keadaan itu. Sebab, penduduk Ecuador bukan Islam. Kalau toh ada yang seagama
dengan kita, jumlahnya hanya beberapa ribu saja. Namun mereka mampu menangkap
peluang dan mengekspor pisang ke tanah suci. Tanah suci tempat beribadah haji
bagi orang Islam. Di mana warga Indonesia adalah jemaah haji terbesar di dunia.
Hal ini jelas merupakan buah dari kemampuan diplomasi, kolaborasi, komunikasi
dan terobosan perdagangan yang tidak bisa dianggap enteng. Sehingga dengan
mencermati hal itu banyak pelajaran dan manfaat yang bisa diambil.
Beberapa
manfaat yang bisa diambil dari kedigdayaan Ecuador sebagai pengekspor pisang
Cavendish terbesar ke Arab Saudi dapat ditelusuri dari berbagai segi,
diantaranya dari segi spiritual dan pendidikan.
1.Segi Spiritual
Dari segi
spiritual atau dari segi agama, buah-buahan yang di datangkan ke tanah suci
dari berbagai penjuru dunia, merupakan bukti kekuasaan Allah SWT, yang
mengabulkan do’a Nabi Ibrahim, sebagaimana terdapat dalam Al Qur’an, surat
Ibrahim ayat 37, yang artinya : “ Ya
Tuhan kami! Sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di suatu
lembah yang tidak dapat mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang
dihormati. Ya Tuhan kami (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan
shalat, maka jadikanlah hati mereka cenderung kepada mereka dan anugerahilah
mereka rezeki dari buah-buahan,
mudah-mudahan mereka bersyukur.
Do’a ini
diucapkan Nabi Ibrahim saat meninggalkan anaknya yang masih bayi dan dinamai
Ismail bersama Ibunya di lembah yang berbatu dan tandus di Makkah. Sudah jelas,
pada lembah yang berbatu dan tandus itu tidak mungkin bisa tumbuh tanaman. Dan,
Nabi Ibrahim saat berdo’a mungkin tidak bisa membayangkan bagaimana buah-buahan
dapat di datangkan ke lembah bebatuan yang kering kerontang dan tidak
berpenduduk, kecuali mereka bertiga.
M. Quraish
Shihab, dalam tafsir Al Misbah, vol. 6 hal. 389, menjelaskan bahwa buah-buahan
untuk makanan ataupun rezeki tersebut di bawa dari tempat lain. Artinya harus
diimpor, sehingga kebutuhan buah-buahan bagi mereka yang berada di situ dapat
terpenuhi. Dalam hal ini berarti impor buah pisang cavendish dari Ecuador
ataupun dari daerah lain menunjukkan kekuasaan Allah dalam mengabulkan do’a
Nabi Ibrahim.
Harapan
ataupun do’a Nabi Ibrahim itu di ucapkan ribuan tahun yang lalu. Makbulnya do’a
tersebut akan berlangsung sampai dunia kiamat. Artinya, rezeki berupa
buah-buahan dalam berbagai bentuk dan jenis akan selalu di datangkan atau
berdatangan ke Baitullah. Berdatangan dalam hal ini tentu melalui impor yang
dilakukan oleh pemerintah setempat.
Merujuk dari
do’a Nabi Ibrahim tersebut, maka teladan yang diberikan adalah kita di tuntut
berdo’a untuk anak cucu di masa mendatang. Do’a untuk kebaikan mereka pada masa
yang akan datang. Masa mendatang yang tidak terbayangkan bentuknya. Persis sama
dengan kondisi Nabi Ibrahum saat berdo’a dulu. Tak ada dalam benaknya muncul
bayangan bagaimana mungkin lembah berbatu yang kering dan kerontang bisa
dipenuhi buah-buahan. Hanya harapan pada kekuasaan Allah lah yang mendorongnya
berdo’a.
Kini, kita
juga tak bisa membayangkan bagaimana generasi mendatang, generasi emas tahun 2045
akan hidup sejahtera di tengah berbagai tantangan dan ancaman tersebut. Mulai
dari tantangan perubahan iklim, peningkatan populasi manusia, penyebaran wabah
penyakit, menipisnya sumber daya alam yang dapat di perbaharui, krisis pangan,
krisis energi dan sebagainya. Termasuk juga dampak negatif dari kemajuan
teknologi. Generasi sekarang mungkin sulit membayangkan tantangan dan ancaman
itu secara spesifik. Namun, yang jelas tantangan dan ancaman itu sudah
menunjukkan hilalnya, jadi pasti akan ada. Sebab, manusia bertambah banyak,
persediaan makanan dan energi akan terus tergerogoti. Untuk itu, meskipun do’a
kita tidak setara dengan do’a Nabi Ibrahim, namun, siapa tahu, sebait do’a
tulus ikhlas yang kita panjatkan pada-Nya, dapat menyelamatkan generasi mendatang
dari berbagai musibah dan bencana yang tidak bisa di prediksi dari
sekarang.
2. Segi Pendidikan
Dari segi pendidikan, di mana pendidikan pada abad ke -21
menekankan pada pentingnya keterampilan berpikir kritis, berpikir kreatif,
serta pentingnya meningkatkan kemampuan berkomunikasi serta bekerja sama
ataupun kolaborasi, maka kemampuan negara Ecuador merupakan bukti nyata. Betapa
mereka dengan sikap kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif dapat
memasarkan produk ke berbagai penjuru dunia. Mereka mampu memenangkan
persaingan dagang, khususnya dalam perdagangan pisang Cavendish. Sehingga
banyak negara saingannya dikalahkan, meskipun negara saingan itu memiliki
potensi yang lebih besar dan penduduk yang lebih banyak.
Seiring dan sejalan dengan rencana
Presiden Prabowo membuat perkampungan haji di Makkah, maka persiapan untuk
menyambut rencana itu sudah sewajarnya di mulai dari sekarang. Di antaranya
adalah persiapan untuk memenuhi kebutuhan buah-buahan bagi ratusan ribu jemaah
haji Indonesia. Belajar dari pengalaman, bahwa buah pisang yang mampu melewati
proses seleksi dan dapat diterima otoritas Arab Saudi adalah pisang Cavendish,
maka upaya memperluas penanaman pisang cavendish di berbagai daerah di negara
kita merupakan kebutuhan yang mendesak. Pelaksanaan hal ini tentu membutuhkan
pelatihan dan pendidikan dari pihak terkait.
Di kala produksi banyak dan melimpah
dan kemampuan diplomasi, komunikasi
serta negosiasi anak bangsa dapat diandalkan, maka bukan tidak mungkin pada
masa mendatang, kebutuhan pisang untuk Arab Saudi umumnya dan khususnya Jemaah
haji Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun, akan bisa dipenuhi
oleh negara kita. Sehingga pada tahun-tahun mendatang kita akan menemukan
kardus pisang yang bertuliskan product
of Indonesia dalam seluruh paket buah-buahan konsumsi jemaah haji.
Jika ini
terwujud, tentu akan meningkatkan devisa negara, mengurangi pengangguran, serta
meningkatkan semangat beribadah jemaah haji kita dan jemaah haji lainnya.
Sehingga, pada masanya kelak perkampungan haji Indonesia di Makkah tidak hanya
membuat pelaksanaan ibadah haji lancar, tetapi juga meningkatkan perekonomian
negara. Semoga. .