Kamis, 21 Agustus 2025

 

Jari jemari Pembangun Jiwa

Oleh : Dr. Nasrullah, M.Pd.

Pensiunan Guru SMA Situjuh, kab. Lima Puluh Kota, 

Alumni Program Doktor (S3) Pendidikan Islam UIN

Imam Bonjol Padang

              Pada bulan Agustus ini bangsa Indonesia kembali merayakan peringatan ulang tahun kemerdekaan yang ke 80. Artinya sudah delapan dasawarsa bangsa Indonesia bebas dari tekanan penjajahan secara phisik. Dan, secara perlahan ataupun secara cepat mengisi kemerdekaan tersebut sehingga dapat menjadi bangsa yang berdaulat dan diperhitungkan oleh dunia internasional. Dalam rentangan waktu itu, lagu Indonesia raya telah membahana dari segenap penjuru.

            Bait-bait lagu itu terasa begitu menyentuh dan menggugah sanubari setiap anak bangsa. Mereka terharu dan bertekad untuk mewujudkan mimpi dan harapan yang terkait dalam syairnya. Diantara bait lagu itu adalah di dahulukannya membangun jiwa dari membangun raga. Artinya, pendiri bangsa berkomitmen untuk lebih dulu membangun jiwa sebelum melakukan yang lain. Sebab, jiwa yang tangguh akan menjelma dalam semangat juang yang tinggi, semangat pantang menyerah, semangat selalu mencari terobosan dalam setiap persoalan yang mengemuka, menumbuh kembangkan karakter jujur, memiliki integritas dan komitmen yang tinggi untuk mengabdi pada Ibu Pertiwi.

            Kejelian WR Supratman dan pejuang lainnya dalam merangkai bait lagu yang menekankan pentingnya membangun jiwa, ternyata relevan sampai sekarang. Hal ini dibuktikan dengan analisa terhadap dampak yang timbul akibat kecanggihan teknologi di era digital. Era di mana arus informasi begitu deras, orang terhubung dengan cepat keseluruh dunia, sesuatu bisa menjadi viral dan menjadi rujukan, menjadi tuntunan bagi banyak orang dan juga menjadi sarana buat membully sesama warga bangsa. Akibatnya, timbulkan dampak negatif pada mental atau menggerogoti jiwa banyak orang. Bahkan, menurut menteri kesehatan Budi Gunadi Sadikin, terdapat tiga diantara sepuluh orang Indonesia yang mengalami masalah mental (I Dewa Gede Sayang Adi Yadnya, Republika Online 16-8-25) . Hal itu diantaranya terlihat dalam gejala depresi, stress, perilaku takut ketinggalan (fomo), ingin serba instan atau ingin memperoleh sesuatu secara cepat dan mudah. Rentetannya adalah berkembangnya misinformasi, hoaks, perilaku koruptif, manipulatif dan ekses lainnya. Hal ini jelas menggerogoti upaya membangun jiwa.

            Jika kondisi itu terus berlanjut, maka upaya membangun jiwa akan sia-sia. Justeru akan menghancurkan pembangunan raga. Betapa banyak orang yang phisik atau raganya begitu kuat, otaknya begitu pintar, namun, empatinya ataupun rasa sosialnya berada pada titik terendah.  Bahkan hari ini, menurut data, pengguna internet di Indonesia mencapai 229, 4 juta atau mencapai 80,66% dari seluruh penduduk Indonesia. Namun tingkat literasi numerasi, literasi digital, literasi sains dan sebagainya belum paralel dengan banyaknya jumlah pengguna internet. Sehingga perkembangan informasi hoaks, penggunaan deep fake untuk menipu, melakukan judi online dan sebagainya sangat merajalela. Ini jelas bagai rayap menggerogoti jiwa anak bangsa.

            Kondisi itu menunjukkan pentingnya peningkatan pembangunan jiwa. Pembangunan jiwa yang diawali dari literasi dalam berbagai bidang. Literasi yang meningkat tentu akan memberikan kontribusi yang besar dalam membangun  jiwa. Sebagai contoh, mereka yang memiliki literasi digital, tidak akan mudah terpengaruh oleh hoaks, misinformasi dan sebagainya. Sehingga jiwanya akan kuat dalam menhadapi berbagai kondisi yang timbul akibat kemajuan teknologi.

            Dengan demikian, membangun jiwa di era digital merupakan pekerjaan yang sangat berat. Bisa jadi lebih berat dari upaya membangun jiwa pada masa perjuangan kemerdekaan. Sebab, pada masa perjuangan merebut kemerdekaan musuhnya jelas, yakni penjajah dengan segala kiat, tipudaya  ataupun strategi kotor mereka. Sedangkan pada masa sekarang, membangun jiwa berhadapan dengan musuh yang tidak terlihat. Musuh yang datang dari gesekan jari jemari dan menyebar  bersama angin serta gelombang informasi yang menerobos sekat-sekat ataupun dinding di mana kita berada.

            Jadi. membangun jiwa di era digital memang memiliki tantangan yang sangat berat. Di era ini, jari jemari begitu perkasa memproduksi hoaks, meningkatkan rasa tidak puas, meningkatkan kasus perundungan dan sebagainya. Namun. Juga tak bisa dipungkiri, gerakan jari juga bisa meningkatkan motivasi, semangat juang, meminimalisir misinformasi dan sebagainya. Inilah peran penting jari jemari di era digital. Tantangan yang di hadapi begitu besar dan upaya menghadapinya juga terbuka lebar. Jadi, meskipun  energi yang menggerakkan jari jemari relatif kecil, namun gesekan pada layar atau keybord itu bisa membangun jiwa. Namun bisa juga menjerumuskan jiwa warga bangsa ke titik terendah. Posisi terendah yang tidak diinginkan pendiri bangsa.

        Bila diletakkan dalam kerangka keberadaan manusia dipermukaan bumi, hal itu merupakan alarm peringatan. Sebab, manusia diciptakan-Nya adalah untuk menyembahnya. Mengabdi kepada yang maha kuasa dan menjadi khalifah di permukaan bumi. Keberadaan manusia di permukaan bumi memiliki misi yang berat dan harus dipertanggung jawabkan semuanya. Nah, pada posisi ini, berarti apapun yang dilakukan harus jelas, terukur dan bermanfaat serta mendapat ridha dari Allah SWT.

            Intinya, berarti membangun jiwa di era digital adalah menumbuhkembangkan keimanan kepada-Nya. Iman yang kuat dari pejuang kemerdekaan telah mengantarkan kita pada kondisi sekarang. Hal ini juga berarti dengan iman yang kuat jugalah jiwa dibangun diera digital.

           Banyak istilah yang berkaitan dengan pembangunan jiwa. Ada istilah kesehatan mental, integritas, komitmen, harga diri, pengendalian diri dan sebagainya. Semua itu akan mudah terwujud jika berkembang kesadaran akan adanya pencipta alam raya ini dan adanya keyakinan bahwa semua yang diperbuat, betapapun kecilnya, akan dipertanggung jawabkan dihadapan-Nya. Dalam surat Al Zalzalah, ayat 7 dan 8, yang artinya : Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

           Firman Allah ini tentu bisa dielaborasi lagi, barang siapa yang menggerakkan jarinya untuk menyebar do’a dan kata yang menentramkan dan membangun jiwa, ia akan melihat balasannya. Sebaliknya, barang siapa yang menyebar hoaks atau pun membully orang, meskipun hanya sekecil atom, maka ia akan melihat balasannya, 

Wallahu a’lam bish shawab