Jari jemari Pembangun Jiwa
Oleh : Dr. Nasrullah, M.Pd.
Pensiunan Guru SMA Situjuh, kab. Lima Puluh Kota,
Alumni Program Doktor (S3) Pendidikan Islam UIN
Imam Bonjol Padang
Bait-bait
lagu itu terasa begitu menyentuh dan menggugah sanubari setiap anak bangsa.
Mereka terharu dan bertekad untuk mewujudkan mimpi dan harapan yang terkait
dalam syairnya. Diantara bait lagu itu adalah di dahulukannya membangun jiwa dari
membangun raga. Artinya, pendiri bangsa berkomitmen untuk lebih dulu membangun
jiwa sebelum melakukan yang lain. Sebab, jiwa yang tangguh akan menjelma dalam
semangat juang yang tinggi, semangat pantang menyerah, semangat selalu mencari
terobosan dalam setiap persoalan yang mengemuka, menumbuh kembangkan karakter
jujur, memiliki integritas dan komitmen yang tinggi untuk mengabdi pada Ibu
Pertiwi.
Kejelian
WR Supratman dan pejuang lainnya dalam merangkai bait lagu yang menekankan
pentingnya membangun jiwa, ternyata relevan sampai sekarang. Hal ini dibuktikan
dengan analisa terhadap dampak yang timbul akibat kecanggihan teknologi di era
digital. Era di mana arus informasi begitu deras, orang terhubung dengan cepat
keseluruh dunia, sesuatu bisa menjadi viral dan menjadi rujukan, menjadi
tuntunan bagi banyak orang dan juga menjadi sarana buat membully sesama warga
bangsa. Akibatnya, timbulkan dampak negatif pada mental atau menggerogoti jiwa
banyak orang. Bahkan, menurut menteri kesehatan Budi Gunadi Sadikin, terdapat
tiga diantara sepuluh orang Indonesia yang mengalami masalah mental (I Dewa
Gede Sayang Adi Yadnya, Republika Online 16-8-25) . Hal
itu diantaranya terlihat dalam gejala depresi, stress, perilaku takut
ketinggalan (fomo), ingin serba instan atau ingin memperoleh sesuatu secara
cepat dan mudah. Rentetannya adalah berkembangnya misinformasi, hoaks, perilaku
koruptif, manipulatif dan ekses lainnya. Hal ini jelas menggerogoti upaya
membangun jiwa.
Jika
kondisi itu terus berlanjut, maka upaya membangun jiwa akan sia-sia. Justeru
akan menghancurkan pembangunan raga. Betapa banyak orang yang phisik atau
raganya begitu kuat, otaknya begitu pintar, namun, empatinya ataupun rasa
sosialnya berada pada titik terendah.
Bahkan hari ini, menurut data, pengguna internet di Indonesia mencapai
229, 4 juta atau mencapai 80,66% dari seluruh penduduk Indonesia. Namun tingkat
literasi numerasi, literasi digital, literasi sains dan sebagainya belum
paralel dengan banyaknya jumlah pengguna internet. Sehingga perkembangan
informasi hoaks, penggunaan deep fake untuk menipu, melakukan judi online dan
sebagainya sangat merajalela. Ini jelas bagai rayap menggerogoti jiwa anak
bangsa.
Kondisi
itu menunjukkan pentingnya peningkatan pembangunan jiwa. Pembangunan jiwa yang
diawali dari literasi dalam berbagai bidang. Literasi yang meningkat tentu akan
memberikan kontribusi yang besar dalam membangun jiwa. Sebagai contoh, mereka yang memiliki
literasi digital, tidak akan mudah terpengaruh oleh hoaks, misinformasi dan sebagainya.
Sehingga jiwanya akan kuat dalam menhadapi berbagai kondisi yang timbul akibat
kemajuan teknologi.
Dengan
demikian, membangun jiwa di era digital merupakan pekerjaan yang sangat berat.
Bisa jadi lebih berat dari upaya membangun jiwa pada masa perjuangan
kemerdekaan. Sebab, pada masa perjuangan merebut kemerdekaan musuhnya jelas,
yakni penjajah dengan segala kiat, tipudaya
ataupun strategi kotor mereka. Sedangkan pada masa sekarang, membangun
jiwa berhadapan dengan musuh yang tidak terlihat. Musuh yang datang dari
gesekan jari jemari dan menyebar bersama
angin serta gelombang informasi yang menerobos sekat-sekat ataupun dinding di
mana kita berada.
Jadi.
membangun jiwa di era digital memang memiliki tantangan yang sangat berat. Di
era ini, jari jemari begitu perkasa memproduksi hoaks, meningkatkan rasa tidak
puas, meningkatkan kasus perundungan dan sebagainya. Namun. Juga tak bisa
dipungkiri, gerakan jari juga bisa meningkatkan motivasi, semangat juang,
meminimalisir misinformasi dan sebagainya. Inilah peran penting jari jemari di
era digital. Tantangan yang di hadapi begitu besar dan upaya menghadapinya juga
terbuka lebar. Jadi, meskipun energi
yang menggerakkan jari jemari relatif kecil, namun gesekan pada layar atau
keybord itu bisa membangun jiwa. Namun bisa juga menjerumuskan jiwa warga
bangsa ke titik terendah. Posisi terendah yang tidak diinginkan pendiri bangsa.
Bila
diletakkan dalam kerangka keberadaan manusia dipermukaan bumi, hal itu
merupakan alarm peringatan. Sebab, manusia diciptakan-Nya adalah untuk
menyembahnya. Mengabdi kepada yang maha kuasa dan menjadi khalifah di permukaan
bumi. Keberadaan manusia di permukaan bumi memiliki misi yang berat dan harus
dipertanggung jawabkan semuanya. Nah, pada posisi ini, berarti apapun yang
dilakukan harus jelas, terukur dan bermanfaat serta mendapat ridha dari Allah
SWT.
Intinya,
berarti membangun jiwa di era digital adalah menumbuhkembangkan keimanan
kepada-Nya. Iman yang kuat dari pejuang kemerdekaan telah mengantarkan kita
pada kondisi sekarang. Hal ini juga berarti dengan iman yang kuat jugalah jiwa
dibangun diera digital.
Banyak
istilah yang berkaitan dengan pembangunan jiwa. Ada istilah kesehatan mental,
integritas, komitmen, harga diri, pengendalian diri dan sebagainya. Semua itu
akan mudah terwujud jika berkembang kesadaran akan adanya pencipta alam raya
ini dan adanya keyakinan bahwa semua yang diperbuat, betapapun kecilnya, akan
dipertanggung jawabkan dihadapan-Nya. Dalam surat Al Zalzalah, ayat 7 dan 8,
yang artinya : “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun,
niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan
kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.
Firman Allah ini tentu bisa
dielaborasi lagi, barang siapa yang menggerakkan jarinya untuk menyebar do’a
dan kata yang menentramkan dan membangun jiwa, ia akan melihat balasannya.
Sebaliknya, barang siapa yang menyebar hoaks atau pun membully orang, meskipun
hanya sekecil atom, maka ia akan melihat balasannya,
Wallahu a’lam bish shawab