Menggali Nasehat Bung Hatta
Oleh : Dr. Nasrullah,
M.Pd.
Alumni Program Doktor (S3)
Pendidikan Islam
UIN Imam Bonjol Padang
Seiring
perjalanan waktu yang begitu cepat, tanpa terasa telah hampir setengah abad
Bung Hatta meninggalkan kita semua. Tepatnya beliau menghembuskan nafas
terakhir pada 14 April 1980, atau 45 tahun yang lalu. Namun jasa dan
keteladanan yang telah ditunjukkan semasa hidupnya takkan lekang ditelan masa. Pemikiran
dan kebaikan yang telah dilakukannya sepanjang hayatnya akan tetap menjadi
inspirasi bagi segenap warga bangsa, terutama di era digital sekarang.
Berbagai
hal positif, di era digital, seperti kemudahan memperoleh informasi kini telah
dirasakan semua orang. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa dan lansia telah
menikmati limpahan informasi. Secara umum, mereka sangat akrab dengan
kecanggihan teknologi . Namun, teknologi juga membawa sisi negatif yang menerpa
semuanya. Efek negatif ini, jika tidak dikelola secara baik, akan menimbulkan
dampak mengerikan. Sebagai contoh pada berita hoaks yang dapat merugikan
berbagai pihak.
Menyebarnya
efek negatif tersebut, diantaranya berakar dari ketidakjujuran dan sikap FOMO.
Sikap fomo ( Fear Of Missing Out) adalah perasaan takut ketinggalan trend atau
takut ketinggalan dari berbagai perkembangan terbaru. Ketidakjujuran timbul akibat
takut ketinggalan dan menginginkan segala sesuatu secara instan. Untuk memenuhi
kepentingan tersebut, baik itu berupa kepentingan pribadi maupun kepentingan
kelompok, secepat mungkin, orang memanipulasi berbagai fakta. Fakta diolah
sedemikian rupa dengan dukungan teknologi, demi mencapai maksud tertentu. Sehingga
ketidakjujuran kian bersemi dan berkembangbiak . Dalam hal ini kejujuran
menjadi barang asing dan langka. Dan, sikap FOMO sejatinya juga berakar dari
ketidakjujuran dan keinginan untuk
memperoleh pengakuan sosial yang tinggi atau memperoleh pengikut yang banyak,
dan keinginan terkait lainnya..
Ekses
dari kemajuan teknologi di era digital tersebut telah diantisipasi Bung Hatta
sejak dulu. Telah hampir setengah abad
keteladanan Bung Hatta tetap menunjukkan aktualitasnya. Hal itu diantaranya
terdapat dalam nasehat Bung Hatta yang menekankan pentingnya kejujuran. Beliau
mengatakan bahwa kurang pintar dapat ditingkatkan dengan belajar, kurang
terampil dapat ditingkatkan dengan latihan, namun kurang jujur sulit
diperbaiki. Untuk itu, pendidikan karakter dalam meningkatkan kejujuran sangat
penting dikembangkan.
Peningkatan
kejujuran memang tidak semudah meningkatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Jelas
tidak semudah menerapkan deep learning
dalam pembelajaran. Ini sebenarnya berpijak dari keimanan. Berpijak dari
keyakinan bahwa Allah menyaksikan segala sesuatu perbuatan setiap manusia.
Perbuatan itu akan dimintai-Nya pertanggungjawaban di akhirat nanti. Jika
perbuatan itu baik, maka ganjaran pahala siap menanti. Namun, jika perbuatan
itu buruk, maka siksa-Nya amat keras dan sangat mengerikan. Hal ini diantaranya
ditegaskan dalam Q.S. Al Anfal, ayat 25),
yang artinya ; Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus
menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah
amat keras siksaan-Nya.
Bung
Hatta juga memberikan nasehat atau keteladanan dalam mengurangi FOMO. Beliau
sangat sederhana, bahkan keinginannya untuk memiliki sepatu yang terkenal pada
masanya, sepatu Bally made in Swiss, tetap ditahan. Sehingga keinginan dan
harapan untuk memiliki sepatu itu hanya tertinggal dalam bentuk potongan kertas
iklan yang terselip dalam dompet kesayangannya. Itu diketahui setelah beliau
meninggal. Padahal, saat itu beliau adalah tokoh terkenal dan sangat berpengaruh.
Dengan
demikian, keteladanan Bung Hatta dalam pentingnya menegakkan kejujuran atau
senantiasa bersikap jujur, merupakan senjata ampuh untuk menanggulangi akibat
negatif kemajuan teknologi. Begitu juga dengan kesederhanaan dan sikap menahan
diri dari kemewahan yang beliau tunjukkan, juga sangat penting di era sekarang.
Keteladanan ini akan dapat menghambat laju perkembangan virus flexing yang dihembus badai FOMO. Allahummaghfirlahu warhamhu wa 'afihi wa'fu
anhu wakrim nuzulahu