Kamis, 15 Januari 2026
Sinkhole & Pencegahan TBC
Oleh : Dr. Nasrullah, M.Pd.
Pensiunan Guru SMA Situjuh, Alumni Program Doktor (S3)
Pendidikan Islam UIN
Imam Bonjol, Padang
Sinkhole atau peristiwa terjadinya fenomena alam berupa terbannya permukaan tanah yang terjadi di Situjuh, kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, awal tahun ini telah menimbulkan rasa ingin tahu banyak orang untuk melihat dan menganalisis mengapa hal itu terjadi. Berbagai media lokal maupun nasional telah banyak memberitakan dan mengulas peristiwa tersebut. Berbagai pendapat para ahli juga telah banyak dikemukakan.
Dalam
hal berita, sebagian besar media cetak, online dan elektronik mengemukakan
berita yang hampir sama tentang kejadian tersebut. Namun, dalam hal ulasan
argumentatif terdapat keragaman pendapat yang memiliki landasan ilmiah
masing-masing, namun tetap dalam patokan berpikir secara ilmiah.
Hal itu
diantaranya bisa dilihat dalam artikel Dr. Sri Aisyah, S.H.I, M.H., dalam
kompascom tgl.12 Januari 2026, yang menekankan pentingnya penelitian ilmiah
dalam menjelaskan peristiwa tersebut dan mewanti-wanti masyarakat supaya tetap
berpijak pada ilmu pengetahuan yang sudah teruji. Tidak terpengaruh terhadap
hal-hal yang mistis dan diluar nalar serta logika ilmiah. Ahli geologi Sumbar,
Ade Edwar, menyebutkan bahwa peristiwa itu merupakan fenomena alam yang terjadi
di daerah yang dibawah permukaan tanahnya terdapat batu kapur atau gamping
(Kompas com, 4-1-26). Media Melek Bencana mengemukakan secara detail tentang
proses terjadinya sawah luluih atau sinkhole itu secara terperinci lengkap
dengan infografis (Melek Bencana, 14 Januari 2026). Begitu juga dengan sejumlah
ahli geologi yang telah mengambil sampel tanah dan air di lokasi tersebut dan
menganalisisnya di laboratorium. Bahkan,
dipihak eksekutif, seperti Wakil Gubernur Sumbar Vasco Ruseimy menyatakan bahwa
sinkhole itu murni peristiwa alam, tidak terkait dengan hal-hal mistis dan penyembuhan penyakit
(Langgam, 11-1-26)
Kecepatan
ataupun kesigapan para ahli atau pakar serta pejabat tersebut sangat bermanfaat
dalam menjawab pertanyaan tentang mengapa fenomena itu terjadi. Sekaligus juga
memberi alarm peringatan terhadap perilaku dan pemikiran yang bermuatan mistik dan irasional.
Secara
umum, terdapat tiga sikap terhadap fenomena tersebut. Pertama adalah mencari
mengapa hal itu terjadi secara ilmiah. Ini pekerjaan rumah bagi pakar atau ahli
yang berkompeten. Kedua, menegaskan bahwa peristiwa itu murni proses alami dan
bisa terjadi dimana saja. Sebab, Allah berbuat sekehendak-Nya. Ini merupakan
ranah dari alim ulama ataupun ahli agama. Ketiga mengingatkan masyarakat supaya tidak terpengaruh oleh
hal-hal mistis yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Ini merupakan tanggung
jawab pendidik dan orang cerdik pandai di tengah-tengah masyarakat.
Usaha
untuk mencari penyebab terjadinya sinkhole dan memberikan argumentasi serta
fakta ilmiah tentang kejadian tersebut merupakan upaya cepat dalam
mengantisipasi dan mengedukasi masyarakat tentang fenomena alam tersebut. Hal
ini merupakan jawaban dari serangkaian pertanyaan dari berbagai lapisan masyarakat
yang memiliki keragaman pengetahuan dan pengalaman.
Upaya
tersebut sekaligus juga mencegah berkembangnya tahyul, bid’ah dan churafat
(TBC) yang dapat merusak iman umat Islam. TBC yang ikut menyebar terbawa arus
deras digitalisasi harus diberantas sampai ke akar-akarnya. Sebab itu akan
menjerumuskan orang pada perilaku syirik. Perilaku dosa yang tak diampuni oleh
Allah SWT.
Wallahua’lam
Memaknai Dialog Dalam Isra’
Mikraj
Oleh : Dr. Nasrullah, M. Pd.
Pensiunan Guru SMA, Alumni Program
S3 (Doktor) Pendidikan Islam,
UIN Imam Bonjol, Padang
Peringatan Isra’ Mikraj tanggal 27 Rajab
tahun 2025 dilaksanakan oleh kaum muslimin di seluruh penjuru tanah air.
Peringatan itu pada prinsipnya adalah untuk mengambil hikmah dan menjadikan
momentum tersebut sebagai pedoman dalam memecahkan permasalahan serta
meningkatkan keimanan.
Hal tersebut sangat penting diterapkan di era digital
kini. Saat di mana algoritma telah
mewarnai kehidupan. Algoritma terus bergerilya dalam senyap disertai dengan pengaruh
luar biasa dan melibatkan banyak orang. Keterlibatan banyak orang tersebut berpatokan
pada apa yang paling disukai, apa yang paling sering diklik, apa yang paling
banyak di bagikan dan apa yang paling banyak dikomentari. Semua itu berlangsung
begitu cepat dan cenderung membentuk anggapan
bahwa yang paling penting adalah sesuatu yang viral. Kebenaran dan kedalaman
makna kurang mendapat prioritas.
Kondisi
di atas mempersempit ruang bertanya, artinya kesempatan untuk bertanya
berkurang. Padahal, kemauan bertanya merupakan cikal bakal bagi perkembangan
ilmu pengetahuan dan awal bagi perkembangan perbaikan kondisi kehidupan pada
masa yang akan datang. Kemauan untuk bertanya
itu juga sangat jelas tergambar dalam rangkaian peristiwa Isra’ Mikraj Nabi
Muhammad.
Hal tersebut
diantaranya terlihat pada pertanyaan Nabi Musa kepada Nabi Muhammad tentang jumlah
shalat yang disuruh-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, bahwa jumlah
shalat yang disuruh- Nya semula adalah 50. Kemudian dikurangi. Pengurangan itu
terjadi setelah dialog antara Nabi Musa dan Nabi Muhammad SAW, di mana Nabi
Musa mengusulkan supaya Nabi Muhammad SAW memohon pengurangan kepada Allah.
Permohonan pengurangan dikabulkan-Nya, sehingga jumlah shalat yang tadinya 50
kali dijadikan 5 kali. Ini berarti memberikan isyarat bagi pentingnya kemampuan
bertanya. Pengembangan kemampuan bertanya berarti juga membuka kran dialog untuk mencari yang terbaik. Ini menunjukkan
bahwa kebiasaan bertanya sudah lama dan memiliki sejarah panjang. Bahkan jauh
sebelum berkembangnya teori pendidikan modern yang membuktikan bahwa bertanya
itu penting.
Ditelusuri
lebih jauh, motivasi yang tersirat dari ungkapan Nabi Musa yang bertanya kepada
Nabi Muhammad tentang jumlah shalat itu bertolak dari kekhawatiran akan
kemampuan umat Nabi Muhammad. Menurut Nabi Musa, umat Nabi Muhammad tidak akan
sanggup mengerjakan banyak shalat dalam
setiap hari, sebab, dalam pemikiran Nabi Musa, phisik umat Nabi Muhammad lebih
kecil, sehingga kurang mampu melaksanakan shalat yang banyak. Sehingga harus dikurangi dan dikurangi lagi.
Hal
itu menunjukkan kekhawatiran berdasarkan pengalaman yang sudah ada. Pengalaman
pada saat Nabi Musa menegakkan syariat agama pada masanya. Bila di tarik ke era
digital sekarang, maka pola bertanya Nabi Musa memiliki kemiripan dengan
situasi yang dihadapi di era digital.
Di
era digital yang penuh dengan limpahan informasi, pertanyaan yang sering muncul
adalah berapa kuat orang bertahan di tengah banjir informasi, seberapa kuat
orang bertahan dari kelelahan mental akibat perbandingan sosial yang tak pernah
habis. Seberapa kuat orang mempertahankan kemampuan kognisi di tengah-tengah
gempuran kecerdasan imitasi yang menggerogoti sistem kognitif manusia. Dan
banyak lagi pertanyaan penyerta lainnya. Semua pertanyaan ini mengerucut dalam
lingkup kekhawatiran umum bahwa era digital disamping memberikan berbagai
kemudahan juga membentangkan jurang yang dapat menjerumuskan eksistensi
manusia.
Dalam
Al Qur’an surat Al Nahl ayat 43, Allah berfirman, yang artinya :Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai
pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. Perintah Allah ini menunjukkan
pentingnya bertanya kepada orang yang
memiliki pengetahuan. Perintah ini sekaligus juga memberikan peringatan
bahwa bertanya kepada selain orang tidak dianjurkan. Hal ini juga mengoreksi
sikap bertanya kepada mesin atau menggunakan Artificial Intelegency (AI) untuk
menjawab pertanyaan dan meyakini kebenaran jawaban mesin tersebut. Kebiasaan itu
harus dikoreksi ulang dan dilakukan dengan penuh kehati-hatian serta tetap
berpedoman kepada pendapat orang yang berilmu pengetahuan. Juga disebutkan dalam surat Al Anbiya ayat 7,
yang artinya : Maka bertanyalah kepada
orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui. Hal ini menunjukkan bahwa
bertanya itu merupakan perintah dari Allah SWT. Disamping itu ilmu harus
dirujuk kepada ahlinya atau pakar pada bidang masing-masing.
Kegiatan
bertanya jelas melibatkan lebih dari satu orang. Ini berarti dalam mengemukakan
pertanyaan pasti terjadi dialog. Dialog yang terjadi dalam Isra’ Mikraj itu merupakan
hal yang sangat penting dan sangat perlu menjadi acuan, sebab degradasi dialog
telah terjadi di mana-mana. Dialog
mengalami degradasi karena di era digital, orang lebih banyak ‘berdialog’
dengan AI. AI lebih dominan digunakan. Padahal AI itu juga ada kelemahannya,
sehingga perintah- Nya , seperti yang tercantum dalam ayat di atas sangat
relevan untuk mengantisipasi kelemahan AI serta memperkuat iklim dialog real
antar manusia.
Semua
itu menunjukkan bahwa Allah Maha Kuasa
memberikan bekal serta petunjuk kepada umat manusia dalam memecahkan
berbagai permasalahan kehidupan dan selalu mendorong manusia untuk meningkatkan
keimanan kepada-Nya. Dengan demikian, hal ini akan memacu peningkatan dialog
dalam aneka literasi yang kini
berkembang. Hal ini juga merupakan upaya untuk lebih memasyarakatkan dialog
yang kian tergerus arus digitalisasi. Sekaligus juga semakin membumikan hikmah
Israk Mikraj.
Wallahua’alam.
Sinkhole
Oleh : Dr. Nasrullah, M. Pd.
Pensiunan Guru SMA, Alumni Program
S3 (Doktor) Pendidikan Islam,
UIN Imam Bonjol, Padang
Dalam
hal berita, sebagian besar media cetak, online dan elektronik mengemukakan
berita yang hampir sama tentang kejadian tersebut. Namun, dalam hal ulasan
argumentatif terdapat keragaman pendapat yang memiliki landasan ilmiah
masing-masing, namun tetap dalam patokan berpikir secara ilmiah.
Hal itu
diantaranya bisa dilihat dalam artikel Dr. Sri Aisyah, S.H.I, M.H., dalam
kompascom tgl.12 Januari 2026, yang menekankan pentingnya penelitian ilmiah
dalam menjelaskan peristiwa tersebut dan mewanti-wanti masyarakat supaya tetap
berpijak pada ilmu pengetahuan yang sudah teruji. Tidak terpengaruh terhadap
hal-hal yang mistis dan diluar nalar serta melenceng dari logika ilmiah. Ahli
geologi Sumbar, Ade Edwar, menyebutkan bahwa peristiwa itu merupakan fenomena
alam yang terjadi di daerah yang dibawah permukaan tanahnya terdapat batu kapur
atau gamping (Kompas com, 4-1-26). Media Melek Bencana mengemukakan secara
detail tentang proses terjadinya sawah luluih atau sinkhole itu secara
terperinci, lengkap dengan infografis (Melek Bencana, 14 Januari 2026). Begitu
juga dengan sejumlah ahli geologi yang telah mengambil sampel tanah dan air di
lokasi tersebut dan menganalisisnya di laboratorium. Bahkan, dipihak eksekutif, seperti Wakil
Gubernur Sumbar Vasco Ruseimy menyatakan bahwa sinkhole itu murni peristiwa
alam, tidak terkait dengan hal-hal
mistis dan penyembuhan penyakit (Langgam, 11-1-26)
Kecepatan
ataupun kesigapan para ahli atau pakar serta pejabat tersebut sangat bermanfaat
dalam menjawab pertanyaan tentang mengapa fenomena itu terjadi. Sekaligus juga
memberi alarm peringatan terhadap perilaku dan pemikiran yang bermuatan mistik dan irasional.
Secara
umum, terdapat tiga sikap terhadap fenomena tersebut. Pertama adalah mencari
mengapa hal itu terjadi secara ilmiah. Ini pekerjaan rumah bagi pakar atau ahli
yang berkompeten. Kedua, menegaskan bahwa peristiwa itu murni proses alami dan
bisa terjadi dimana saja. Sebab, Allah berbuat sekehendak-Nya. Ini merupakan
ranah dari alim ulama ataupun ahli agama. Ketiga mengingatkan masyarakat supaya tidak terpengaruh oleh
hal-hal mistis yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Ini merupakan tanggung
jawab pendidik dan orang cerdik pandai di tengah-tengah masyarakat.
Usaha
untuk mencari penyebab terjadinya sinkhole dan memberikan argumentasi serta
fakta ilmiah tentang kejadian tersebut merupakan upaya cepat dalam
mengantisipasi dan mengedukasi masyarakat tentang fenomena alam tersebut. Hal
ini merupakan jawaban dari serangkaian pertanyaan dari berbagai lapisan
masyarakat yang memiliki keragaman pengetahuan dan pengalaman.
Upaya
tersebut sekaligus juga mencegah berkembangnya tahyul, bid’ah dan churafat
(TBC) yang dapat merusak iman umat Islam. TBC yang ikut berkembang terbawa arus
digitalisasi, harus diberantas sampai ke akar-akarnya. Sebab itu akan
menjerumuskan orang pada perilaku syirik. Perilaku dosa yang tak diampuni oleh
Allah SWT.
Wallahua’lam
Isra’ Mikraj & TKA
Oleh : Dr. Nasrullah, M.Pd.
Pensiunan Guru SMA, Alumni Program Doktor (S3) Pendidikan Islam
UIN
Imam Bonjol, Padang
Hal
tersebut sangat penting diterapkan di era digital kini. Saat di mana algoritma telah mewarnai kehidupan. Algoritma
terus bergerilya dalam senyap disertai dengan pengaruh luar biasa dan
melibatkan banyak orang. Keterlibatan banyak orang tersebut berpatokan pada apa
yang paling disukai, apa yang paling sering diklik, apa yang paling banyak di
bagikan dan apa yang paling banyak dikomentari. Semua itu berlangsung begitu
cepat dan cenderung membentuk anggapan
bahwa yang paling penting adalah sesuatu yang viral. Pertanyaan tentang kebenaran
dan kedalaman makna kurang mendapat prioritas.
Kondisi
di atas mempersempit ruang bertanya, artinya kesempatan untuk bertanya
berkurang. Padahal, kemauan bertanya merupakan cikal bakal bagi perkembangan
ilmu pengetahuan, merupakan hal penting dalam memenuhi rasa ingin tahu dan awal
bagi perkembangan perbaikan kondisi kehidupan pada masa yang akan datang.
Berpatokan pada hasil TKA siswa sekolah menengah atas yang baru saja dikeluarkan
kementrian pendidikan menengah, terlihat pentingnya meningkatkan kemauan
bertanya di kalangan siswa. Sebab, hasil TKA itu masih perlu ditingkatkan. Dan
salah satu fungsi TKA adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Peningkatan kualitas pembelajaran diantaranya adalah dengan memupuk semangat
bertanya. Sebab, dengan banyak pertanyaan maka pengetahuan akan meningkat.
Kemauan
untuk bertanya itu juga sangat jelas tergambar dalam rangkaian peristiwa Isra’
Mikraj Nabi Muhammad. Hal tersebut diantaranya terlihat pada pertanyaan Nabi
Musa kepada Nabi Muhammad tentang jumlah shalat yang disuruh-Nya. Sebagaimana
disebutkan dalam hadits shahih Bukhari no 3598, bahwa jumlah shalat yang
disuruh- Nya semula adalah 50. Kemudian dikurangi. Pengurangan itu terjadi
setelah Nabi Musa bertanya kepada Nabi Muhammad atau setelah adanya tanya jawab
antara Nabi Musa dan Nabi Muhammad SAW. Saat itu Nabi Musa mengusulkan supaya
Nabi Muhammad SAW memohon pengurangan kepada Allah. Permohonan pengurangan
dikabulkan-Nya, sehingga jumlah shalat yang tadinya 50 kali dijadikan 5 kali.
Tanya jawab kedua utusan Allah itu memberikan isyarat bagi pentingnya
kemampuan mempertanyakan sesuatu. Ini menunjukkan bahwa kebiasaan bertanya
sudah lama ada dan memiliki sejarah panjang sejak masa Nabi. Bahkan sudah ada sebelum
berkembangnya teori pendidikan modern yang membuktikan bahwa bertanya itu
penting.
Ditelusuri
lebih jauh, motivasi yang tersirat dari ungkapan Nabi Musa yang bertanya kepada
Nabi Muhammad tentang jumlah shalat itu bertolak dari kekhawatiran akan
kemampuan umat Nabi Muhammad. Menurut Nabi Musa, umat Nabi Muhammad tidak akan
sanggup mengerjakan banyak shalat dalam
setiap hari, sebab, dalam pemikiran Nabi Musa, phisik umat Nabi Muhammad lebih
kecil, sehingga kurang mampu melaksanakan shalat yang banyak. Sehingga harus dikurangi dan dikurangi lagi.
Hal
itu menunjukkan kekhawatiran berdasarkan pengalaman yang sudah ada. Pengalaman
pada saat Nabi Musa menegakkan syariat agama pada masanya. Bila di tarik ke era
digital sekarang, maka pola bertanya Nabi Musa memiliki kemiripan dengan
situasi yang dihadapi di era digital. Di era digital yang penuh dengan limpahan
informasi, pertanyaan yang sering muncul adalah berapa kuat orang bertahan di
tengah banjir informasi, seberapa kuat orang bertahan dari kelelahan mental
akibat perbandingan sosial yang tak pernah habis. Seberapa kuat orang
mempertahankan kemampuan kognisi di tengah-tengah gempuran kecerdasan imitasi
yang menggerogoti sistem kognitif manusia.
Terkait dengan hasil TKA, tentu timbul pertanyaan, sejauh mana kebiasaan
menggunakan media sosial dikalangan siswa mengurangi waktu belajar dan membuat
enggan bertanya. Sebab, merasa semua jawaban sudah ada di ruang maya. Dan
banyak lagi pertanyaan penyerta lainnya. Semua pertanyaan ini mengerucut dalam
lingkup kekhawatiran umum bahwa era digital disamping memberikan berbagai
kemudahan juga membentangkan jurang yang dapat menurunkan prestasi belajar
bahkan menjerumuskan eksistensi manusia.
Dalam
Al Qur’an surat Al Nahl ayat 43, Allah berfirman, yang artinya :Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai
pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. Perintah Allah ini menunjukkan
pentingnya bertanya kepada orang yang
memiliki pengetahuan. Perintah ini sekaligus juga memberikan peringatan
bahwa bertanya kepada selain orang tidak dianjurkan. Hal ini juga merupakan koreksi
terhadap sikap bertanya kepada mesin atau menggunakan Artificial Intelegency
(AI).
Kebiasaan
bertanya pada AI itu harus dikoreksi ulang dan dilakukan dengan penuh
kehati-hatian serta tetap berpedoman kepada pendapat orang yang berilmu
pengetahuan. Juga disebutkan dalam surat
Al Anbiya ayat 7, yang artinya : Maka
bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui. Hal ini
menunjukkan bahwa bertanya itu merupakan perintah dari Allah SWT. Disamping itu
ilmu harus dirujuk kepada ahlinya atau pakar pada bidang masing-masing.
Pertanyaan
yang terjadi dalam Isra’ Mikraj itu merupakan hal yang sangat penting dan sangat
perlu menjadi acuan dalam meningkatkan hasil belajar. Sebab degradasi kemampuan dan kemauan bertanya
telah semakin jelas. Kemampuan bertanya mengalami degradasi karena di era
digital, AI lebih dominan digunakan. Padahal AI itu juga ada kelemahannya, sehingga
perintah- Nya , seperti yang tercantum dalam ayat di atas sangat relevan untuk
mengantisipasi kelemahan AI serta memperkuat kemampuan bertanya.
Semua
itu menunjukkan bahwa Allah Maha Kuasa
memberikan bekal serta petunjuk kepada umat manusia dalam memecahkan
berbagai permasalahan kehidupan dan selalu mendorong manusia untuk meningkatkan
keimanan kepada-Nya. Dengan demikian, hal ini akan memacu peningkatan kemauan
bertanya dikalangan siswa khususnya dan umat Islam khususnya.
Dengan
demikian, peringatan Israk Mikraj memiliki spirit untuk mengakselerasi kemampuan bertanya. Kemampuan
bertanya yang sangat penting dalam meningkatkan hasil belajar umumnya dan
peningkatan hasil TKA pada masa yang akan datang. Kemampuan itu sangat perlu
ditingkatkan, kalau tidak akan kian hilang ditelan kecerdasan imitasi, kian
hanyut tergerus arus deras digitalisasi. Mengoptimalkan kemampuan bertanya sekaligus
juga merupakan upaya untuk lebih membumikan hikmah Israk Mikraj.
Wallahua’alam.
Sinkhole
Oleh : Dr. Nasrullah, M.Pd.
Pensiunan Guru SMA, Alumni Program Doktor (S3) Pendidikan Islam
UIN
Imam Bonjol, Padang
Dalam
hal berita, sebagian besar media cetak, online dan elektronik mengemukakan
berita yang hampir sama tentang kejadian tersebut. Namun, dalam hal ulasan
argumentatif terdapat keragaman pendapat yang memiliki landasan ilmiah
masing-masing, namun tetap dalam patokan berpikir secara ilmiah.
Hal itu
diantaranya bisa dilihat dalam artikel Dr. Sri Aisyah, S.H.I, M.H., dalam
kompascom tgl.12 Januari 2026, yang menekankan pentingnya penelitian ilmiah
dalam menjelaskan peristiwa tersebut dan mewanti-wanti masyarakat supaya tetap
berpijak pada ilmu pengetahuan yang sudah teruji. Tidak terpengaruh terhadap
hal-hal yang mistis dan diluar nalar serta melenceng dari logika ilmiah. Ahli
geologi Sumbar, Ade Edwar, menyebutkan bahwa peristiwa itu merupakan fenomena
alam yang terjadi di daerah yang dibawah permukaan tanahnya terdapat batu kapur
atau gamping (Kompas com, 4-1-26). Media Melek Bencana mengemukakan secara
detail tentang proses terjadinya sawah luluih atau sinkhole itu secara
terperinci lengkap dengan infografis (Melek Bencana, 14 Januari 2026). Begitu
juga dengan sejumlah ahli geologi yang telah mengambil sampel tanah dan air di
lokasi tersebut dan menganalisisnya di laboratorium. Bahkan, dipihak eksekutif, seperti Wakil
Gubernur Sumbar Vasco Ruseimy menyatakan bahwa sinkhole itu murni peristiwa
alam, tidak terkait dengan hal-hal
mistis dan penyembuhan penyakit (Langgam, 11-1-26)
Kecepatan
ataupun kesigapan para ahli atau pakar serta pejabat tersebut sangat bermanfaat
dalam menjawab pertanyaan tentang mengapa fenomena itu terjadi. Sekaligus juga
memberi alarm peringatan terhadap perilaku dan pemikiran yang bermuatan mistik dan irasional.
Secara
umum, terdapat tiga sikap terhadap fenomena tersebut. Pertama adalah mencari
mengapa hal itu terjadi secara ilmiah. Ini pekerjaan rumah bagi pakar atau ahli
yang berkompeten. Kedua, menegaskan bahwa peristiwa itu murni proses alami dan
bisa terjadi dimana saja. Sebab, Allah berbuat sekehendak-Nya. Ini merupakan
ranah dari alim ulama ataupun ahli agama. Ketiga mengingatkan masyarakat supaya tidak terpengaruh oleh
hal-hal mistis yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Ini merupakan tanggung
jawab pendidik dan orang cerdik pandai di tengah-tengah masyarakat.
Usaha
untuk mencari penyebab terjadinya sinkhole dan memberikan argumentasi serta
fakta ilmiah tentang kejadian tersebut merupakan upaya cepat dalam
mengantisipasi dan mengedukasi masyarakat tentang fenomena alam tersebut. Hal
ini merupakan jawaban dari serangkaian pertanyaan dari berbagai lapisan
masyarakat yang memiliki keragaman pengetahuan dan pengalaman.
Upaya
tersebut sekaligus juga mencegah berkembangnya tahyul, bid’ah dan churafat
(TBC) yang dapat merusak iman umat Islam. TBC yang menyebar terbawa arus
digitalisasi harus diberantas sampai ke akar-akarnya, sebab itu akan
menjerumuskan orang pada perilaku syirik. Perilaku dosa yang tak diampuni oleh
Allah SWT.
Wallahua’lam
Isra’ Mikraj & Kemauan
Bertanya
Oleh : Dr. Nasrullah, M.Pd.
Pensiunan Guru SMA, Alumni Program Doktor (S3) Pendidikan Islam
UIN
Imam Bonjol, Padang
Hal
tersebut sangat penting diterapkan di era digital kini. Saat di mana algoritma telah mewarnai kehidupan. Algoritma
terus bergerilya dalam senyap disertai dengan pengaruh luar biasa dan
melibatkan banyak orang. Keterlibatan banyak orang tersebut berpatokan pada apa
yang paling disukai, apa yang paling sering diklik, apa yang paling banyak di
bagikan dan apa yang paling banyak dikomentari. Semua itu berlangsung begitu
cepat dan cenderung membentuk anggapan
bahwa yang paling penting adalah sesuatu yang viral. Kebenaran dan kedalaman
makna kurang mendapat prioritas.
Kondisi
di atas mempersempit ruang bertanya, artinya kesempatan untuk bertanya
berkurang. Padahal, kemauan bertanya merupakan cikal bakal bagi perkembangan
ilmu pengetahuan dan awal bagi perkembangan perbaikan kondisi kehidupan pada
masa yang akan datang. Kemauan untuk
bertanya itu juga sangat jelas tergambar dalam rangkaian peristiwa Isra’ Mikraj
Nabi Muhammad.
Hal
tersebut diantaranya terlihat pada pertanyaan Nabi Musa kepada Nabi Muhammad
tentang jumlah shalat yang disuruh-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits
shahih Bukhari no 3598, bahwa jumlah shalat yang disuruh- Nya semula adalah 50.
Kemudian dikurangi.
Pengurangan
itu terjadi setelah tanya jawab antara Nabi Musa dan Nabi Muhammad SAW, di mana
Nabi Musa mengusulkan supaya Nabi Muhammad SAW memohon pengurangan kepada
Allah. Permohonan pengurangan dikabulkan-Nya, sehingga jumlah shalat yang
tadinya 50 kali dijadikan 5 kali. Ini berarti memberikan isyarat bagi
pentingnya kemampuan bertanya. Pengembangan kemampuan bertanya berarti juga
membuka kran tanya jawab untuk mencari yang terbaik. Ini menunjukkan bahwa
kebiasaan bertanya sudah lama dan memiliki sejarah panjang. Bahkan jauh sebelum
berkembangnya teori pendidikan modern yang membuktikan bahwa bertanya itu
penting.
Ditelusuri
lebih jauh, motivasi yang tersirat dari ungkapan Nabi Musa yang bertanya kepada
Nabi Muhammad tentang jumlah shalat itu bertolak dari kekhawatiran akan
kemampuan umat Nabi Muhammad. Menurut Nabi Musa, umat Nabi Muhammad tidak akan
sanggup mengerjakan banyak shalat dalam
setiap hari, sebab, dalam pemikiran Nabi Musa, phisik umat Nabi Muhammad lebih
kecil, sehingga kurang mampu melaksanakan shalat yang banyak. Sehingga harus dikurangi dan dikurangi lagi.
Hal
itu menunjukkan kekhawatiran berdasarkan pengalaman yang sudah ada. Pengalaman
pada saat Nabi Musa menegakkan syariat agama pada masanya. Bila di tarik ke era
digital sekarang, maka pola bertanya Nabi Musa memiliki kemiripan dengan
situasi yang dihadapi di era digital. Di era digital yang penuh dengan limpahan
informasi, pertanyaan yang sering muncul adalah berapa kuat orang bertahan di
tengah banjir informasi, seberapa kuat orang bertahan dari kelelahan mental
akibat perbandingan sosial yang tak pernah habis. Seberapa kuat orang
mempertahankan kemampuan kognisi di tengah-tengah gempuran kecerdasan imitasi
yang menggerogoti sistem kognitif manusia. Dan banyak lagi pertanyaan penyerta
lainnya. Semua pertanyaan ini mengerucut dalam lingkup kekhawatiran umum bahwa
era digital disamping memberikan berbagai kemudahan juga membentangkan jurang
yang dapat menjerumuskan eksistensi manusia.
Kamis, 21 Agustus 2025
Do’a Nabi Ibrahim & Pisang Cavendish
Oleh : Dr. Nasrullah, M.Pd.
Jemaah haji Kab. 50 Kota, Sumbar, tahun 2012 dan 2025
Pensiunan Guru SMA Situjuh, Alumni Program Doktor (S3)
Pendidikan Islam UIN
Imam Bonjol, Padang

Untuk melengkapi menu makanan di
tanah suci, jemaah selalu disediakan buah-buahan. Buah-buahan itu adalah jeruk,
apel dan pisang yang diberikan secara bergantian. Jika dicermati, diantara ke
tiga buah-buahan itu, buah pisang terungkap jelas dalam Al Qur’an, seperti yang
terdapat dalam suarat Al Waqiah ayat 29, yang artinya : Dan pohon pisang yang bersusun buahnya. Pisang juga merupakan
buah-buahan yang paling banyak dan paling mudah ditemukan di berbagai tempat di
daerah kita. Berbagai macam jenis dan beraneka pula nama dan rasanya. Bahkan
produksi pisang negara kita mencapai 9,26 juta ton pada tahun 2024 (Sumber
BPS).
Namun, pisang
yang disediakan di tanah suci adalah pisang cavendish. Pisang ini memiliki warna kulit buah kuning
cerah, rasanya sangat enak dan gurih serta dapat diterima lidah siapa saja.
Sehingga sangat disukai dan dapat memenuhi kebutuhan gizi serta memuaskan
selera jemaah haji dari seluruh dunia umumnya dan jemaah haji Indonesia
khususnya. Sehingga sangat tepat sekali kebijakan pengelola ibadah haji untuk
mendatangkan ribuan ton pisang tersebut ke Arab Saudi.
Pertanyaan
yang mengemuka adalah, dari manakah pisang itu di datangkan? Apakah dari negara
kita yang memiliki aneka ragam pisang dan dapat memproduksi jutaan ton pisang
setiap tahun. Ternyata tidak. Ditelusuri dari kardus pisang yang ditemukan atau
dari observasi di beberapa tempat pendistribusiannya, secara acak, baik itu di
Makkah maupun Madinah, ternyata pisang itu diimpor dari negara kecil yang
bernama Ecuador. Di kardusnya tertulis product
of Ecuador.
Ecuador
merupakan negara kecil yang terletak di bagian barat laut benua Amerika. Bagian
utaranya berbatasan dengan Kolombia, bagian timur dan selatan berbatasan dengan
Peru dan bagian barat berbatasan dengan Samudera Pasifik. Luasnya 283.560 km2
dan penduduknya tahun 2025 diperkirakan sekitar 18,24 juta jiwa. (Sumber :
Wikipedia). Dibanding dengan Indonesia yang memiliki luas 5.180.053 km2
dan memiliki penduduk 273,2 juta jiwa, jelas Ecuador sangat kecil.
Meskipun
hanya merupakan negara kecil, namun kemampuan Ecuador mengekspor pisang ke
berbagai negara, diantaranya ke Arab Saudi patut di cermati. Artinya harus berupaya membuka mata untuk mengamati
keadaan itu. Sebab, penduduk Ecuador bukan Islam. Kalau toh ada yang seagama
dengan kita, jumlahnya hanya beberapa ribu saja. Namun mereka mampu menangkap
peluang dan mengekspor pisang ke tanah suci. Tanah suci tempat beribadah haji
bagi orang Islam. Di mana warga Indonesia adalah jemaah haji terbesar di dunia.
Hal ini jelas merupakan buah dari kemampuan diplomasi, kolaborasi, komunikasi
dan terobosan perdagangan yang tidak bisa dianggap enteng. Sehingga dengan
mencermati hal itu banyak pelajaran dan manfaat yang bisa diambil.
Beberapa
manfaat yang bisa diambil dari kedigdayaan Ecuador sebagai pengekspor pisang
Cavendish terbesar ke Arab Saudi dapat ditelusuri dari berbagai segi,
diantaranya dari segi spiritual dan pendidikan.
1.Segi Spiritual
Dari segi
spiritual atau dari segi agama, buah-buahan yang di datangkan ke tanah suci
dari berbagai penjuru dunia, merupakan bukti kekuasaan Allah SWT, yang
mengabulkan do’a Nabi Ibrahim, sebagaimana terdapat dalam Al Qur’an, surat
Ibrahim ayat 37, yang artinya : “ Ya
Tuhan kami! Sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di suatu
lembah yang tidak dapat mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang
dihormati. Ya Tuhan kami (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan
shalat, maka jadikanlah hati mereka cenderung kepada mereka dan anugerahilah
mereka rezeki dari buah-buahan,
mudah-mudahan mereka bersyukur.
Do’a ini
diucapkan Nabi Ibrahim saat meninggalkan anaknya yang masih bayi dan dinamai
Ismail bersama Ibunya di lembah yang berbatu dan tandus di Makkah. Sudah jelas,
pada lembah yang berbatu dan tandus itu tidak mungkin bisa tumbuh tanaman. Dan,
Nabi Ibrahim saat berdo’a mungkin tidak bisa membayangkan bagaimana buah-buahan
dapat di datangkan ke lembah bebatuan yang kering kerontang dan tidak
berpenduduk, kecuali mereka bertiga.
M. Quraish
Shihab, dalam tafsir Al Misbah, vol. 6 hal. 389, menjelaskan bahwa buah-buahan
untuk makanan ataupun rezeki tersebut di bawa dari tempat lain. Artinya harus
diimpor, sehingga kebutuhan buah-buahan bagi mereka yang berada di situ dapat
terpenuhi. Dalam hal ini berarti impor buah pisang cavendish dari Ecuador
ataupun dari daerah lain menunjukkan kekuasaan Allah dalam mengabulkan do’a
Nabi Ibrahim.
Harapan
ataupun do’a Nabi Ibrahim itu di ucapkan ribuan tahun yang lalu. Makbulnya do’a
tersebut akan berlangsung sampai dunia kiamat. Artinya, rezeki berupa
buah-buahan dalam berbagai bentuk dan jenis akan selalu di datangkan atau
berdatangan ke Baitullah. Berdatangan dalam hal ini tentu melalui impor yang
dilakukan oleh pemerintah setempat.
Merujuk dari
do’a Nabi Ibrahim tersebut, maka teladan yang diberikan adalah kita di tuntut
berdo’a untuk anak cucu di masa mendatang. Do’a untuk kebaikan mereka pada masa
yang akan datang. Masa mendatang yang tidak terbayangkan bentuknya. Persis sama
dengan kondisi Nabi Ibrahum saat berdo’a dulu. Tak ada dalam benaknya muncul
bayangan bagaimana mungkin lembah berbatu yang kering dan kerontang bisa
dipenuhi buah-buahan. Hanya harapan pada kekuasaan Allah lah yang mendorongnya
berdo’a.
Kini, kita
juga tak bisa membayangkan bagaimana generasi mendatang, generasi emas tahun 2045
akan hidup sejahtera di tengah berbagai tantangan dan ancaman tersebut. Mulai
dari tantangan perubahan iklim, peningkatan populasi manusia, penyebaran wabah
penyakit, menipisnya sumber daya alam yang dapat di perbaharui, krisis pangan,
krisis energi dan sebagainya. Termasuk juga dampak negatif dari kemajuan
teknologi. Generasi sekarang mungkin sulit membayangkan tantangan dan ancaman
itu secara spesifik. Namun, yang jelas tantangan dan ancaman itu sudah
menunjukkan hilalnya, jadi pasti akan ada. Sebab, manusia bertambah banyak,
persediaan makanan dan energi akan terus tergerogoti. Untuk itu, meskipun do’a
kita tidak setara dengan do’a Nabi Ibrahim, namun, siapa tahu, sebait do’a
tulus ikhlas yang kita panjatkan pada-Nya, dapat menyelamatkan generasi mendatang
dari berbagai musibah dan bencana yang tidak bisa di prediksi dari
sekarang.
2. Segi Pendidikan
Dari segi pendidikan, di mana pendidikan pada abad ke -21
menekankan pada pentingnya keterampilan berpikir kritis, berpikir kreatif,
serta pentingnya meningkatkan kemampuan berkomunikasi serta bekerja sama
ataupun kolaborasi, maka kemampuan negara Ecuador merupakan bukti nyata. Betapa
mereka dengan sikap kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif dapat
memasarkan produk ke berbagai penjuru dunia. Mereka mampu memenangkan
persaingan dagang, khususnya dalam perdagangan pisang Cavendish. Sehingga
banyak negara saingannya dikalahkan, meskipun negara saingan itu memiliki
potensi yang lebih besar dan penduduk yang lebih banyak.
Seiring dan sejalan dengan rencana
Presiden Prabowo membuat perkampungan haji di Makkah, maka persiapan untuk
menyambut rencana itu sudah sewajarnya di mulai dari sekarang. Di antaranya
adalah persiapan untuk memenuhi kebutuhan buah-buahan bagi ratusan ribu jemaah
haji Indonesia. Belajar dari pengalaman, bahwa buah pisang yang mampu melewati
proses seleksi dan dapat diterima otoritas Arab Saudi adalah pisang Cavendish,
maka upaya memperluas penanaman pisang cavendish di berbagai daerah di negara
kita merupakan kebutuhan yang mendesak. Pelaksanaan hal ini tentu membutuhkan
pelatihan dan pendidikan dari pihak terkait.
Di kala produksi banyak dan melimpah
dan kemampuan diplomasi, komunikasi
serta negosiasi anak bangsa dapat diandalkan, maka bukan tidak mungkin pada
masa mendatang, kebutuhan pisang untuk Arab Saudi umumnya dan khususnya Jemaah
haji Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun, akan bisa dipenuhi
oleh negara kita. Sehingga pada tahun-tahun mendatang kita akan menemukan
kardus pisang yang bertuliskan product
of Indonesia dalam seluruh paket buah-buahan konsumsi jemaah haji.
Jika ini
terwujud, tentu akan meningkatkan devisa negara, mengurangi pengangguran, serta
meningkatkan semangat beribadah jemaah haji kita dan jemaah haji lainnya.
Sehingga, pada masanya kelak perkampungan haji Indonesia di Makkah tidak hanya
membuat pelaksanaan ibadah haji lancar, tetapi juga meningkatkan perekonomian
negara. Semoga. .
Jari jemari Pembangun Jiwa
Oleh : Dr. Nasrullah, M.Pd.
Pensiunan Guru SMA Situjuh, kab. Lima Puluh Kota,
Alumni Program Doktor (S3) Pendidikan Islam UIN
Imam Bonjol Padang
Bait-bait
lagu itu terasa begitu menyentuh dan menggugah sanubari setiap anak bangsa.
Mereka terharu dan bertekad untuk mewujudkan mimpi dan harapan yang terkait
dalam syairnya. Diantara bait lagu itu adalah di dahulukannya membangun jiwa dari
membangun raga. Artinya, pendiri bangsa berkomitmen untuk lebih dulu membangun
jiwa sebelum melakukan yang lain. Sebab, jiwa yang tangguh akan menjelma dalam
semangat juang yang tinggi, semangat pantang menyerah, semangat selalu mencari
terobosan dalam setiap persoalan yang mengemuka, menumbuh kembangkan karakter
jujur, memiliki integritas dan komitmen yang tinggi untuk mengabdi pada Ibu
Pertiwi.
Kejelian
WR Supratman dan pejuang lainnya dalam merangkai bait lagu yang menekankan
pentingnya membangun jiwa, ternyata relevan sampai sekarang. Hal ini dibuktikan
dengan analisa terhadap dampak yang timbul akibat kecanggihan teknologi di era
digital. Era di mana arus informasi begitu deras, orang terhubung dengan cepat
keseluruh dunia, sesuatu bisa menjadi viral dan menjadi rujukan, menjadi
tuntunan bagi banyak orang dan juga menjadi sarana buat membully sesama warga
bangsa. Akibatnya, timbulkan dampak negatif pada mental atau menggerogoti jiwa
banyak orang. Bahkan, menurut menteri kesehatan Budi Gunadi Sadikin, terdapat
tiga diantara sepuluh orang Indonesia yang mengalami masalah mental (I Dewa
Gede Sayang Adi Yadnya, Republika Online 16-8-25) . Hal
itu diantaranya terlihat dalam gejala depresi, stress, perilaku takut
ketinggalan (fomo), ingin serba instan atau ingin memperoleh sesuatu secara
cepat dan mudah. Rentetannya adalah berkembangnya misinformasi, hoaks, perilaku
koruptif, manipulatif dan ekses lainnya. Hal ini jelas menggerogoti upaya
membangun jiwa.
Jika
kondisi itu terus berlanjut, maka upaya membangun jiwa akan sia-sia. Justeru
akan menghancurkan pembangunan raga. Betapa banyak orang yang phisik atau
raganya begitu kuat, otaknya begitu pintar, namun, empatinya ataupun rasa
sosialnya berada pada titik terendah.
Bahkan hari ini, menurut data, pengguna internet di Indonesia mencapai
229, 4 juta atau mencapai 80,66% dari seluruh penduduk Indonesia. Namun tingkat
literasi numerasi, literasi digital, literasi sains dan sebagainya belum
paralel dengan banyaknya jumlah pengguna internet. Sehingga perkembangan
informasi hoaks, penggunaan deep fake untuk menipu, melakukan judi online dan
sebagainya sangat merajalela. Ini jelas bagai rayap menggerogoti jiwa anak
bangsa.
Kondisi
itu menunjukkan pentingnya peningkatan pembangunan jiwa. Pembangunan jiwa yang
diawali dari literasi dalam berbagai bidang. Literasi yang meningkat tentu akan
memberikan kontribusi yang besar dalam membangun jiwa. Sebagai contoh, mereka yang memiliki
literasi digital, tidak akan mudah terpengaruh oleh hoaks, misinformasi dan sebagainya.
Sehingga jiwanya akan kuat dalam menhadapi berbagai kondisi yang timbul akibat
kemajuan teknologi.
Dengan
demikian, membangun jiwa di era digital merupakan pekerjaan yang sangat berat.
Bisa jadi lebih berat dari upaya membangun jiwa pada masa perjuangan
kemerdekaan. Sebab, pada masa perjuangan merebut kemerdekaan musuhnya jelas,
yakni penjajah dengan segala kiat, tipudaya
ataupun strategi kotor mereka. Sedangkan pada masa sekarang, membangun
jiwa berhadapan dengan musuh yang tidak terlihat. Musuh yang datang dari
gesekan jari jemari dan menyebar bersama
angin serta gelombang informasi yang menerobos sekat-sekat ataupun dinding di
mana kita berada.
Jadi.
membangun jiwa di era digital memang memiliki tantangan yang sangat berat. Di
era ini, jari jemari begitu perkasa memproduksi hoaks, meningkatkan rasa tidak
puas, meningkatkan kasus perundungan dan sebagainya. Namun. Juga tak bisa
dipungkiri, gerakan jari juga bisa meningkatkan motivasi, semangat juang,
meminimalisir misinformasi dan sebagainya. Inilah peran penting jari jemari di
era digital. Tantangan yang di hadapi begitu besar dan upaya menghadapinya juga
terbuka lebar. Jadi, meskipun energi
yang menggerakkan jari jemari relatif kecil, namun gesekan pada layar atau
keybord itu bisa membangun jiwa. Namun bisa juga menjerumuskan jiwa warga
bangsa ke titik terendah. Posisi terendah yang tidak diinginkan pendiri bangsa.
Bila
diletakkan dalam kerangka keberadaan manusia dipermukaan bumi, hal itu
merupakan alarm peringatan. Sebab, manusia diciptakan-Nya adalah untuk
menyembahnya. Mengabdi kepada yang maha kuasa dan menjadi khalifah di permukaan
bumi. Keberadaan manusia di permukaan bumi memiliki misi yang berat dan harus
dipertanggung jawabkan semuanya. Nah, pada posisi ini, berarti apapun yang
dilakukan harus jelas, terukur dan bermanfaat serta mendapat ridha dari Allah
SWT.
Intinya,
berarti membangun jiwa di era digital adalah menumbuhkembangkan keimanan
kepada-Nya. Iman yang kuat dari pejuang kemerdekaan telah mengantarkan kita
pada kondisi sekarang. Hal ini juga berarti dengan iman yang kuat jugalah jiwa
dibangun diera digital.
Banyak
istilah yang berkaitan dengan pembangunan jiwa. Ada istilah kesehatan mental,
integritas, komitmen, harga diri, pengendalian diri dan sebagainya. Semua itu
akan mudah terwujud jika berkembang kesadaran akan adanya pencipta alam raya
ini dan adanya keyakinan bahwa semua yang diperbuat, betapapun kecilnya, akan
dipertanggung jawabkan dihadapan-Nya. Dalam surat Al Zalzalah, ayat 7 dan 8,
yang artinya : “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun,
niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan
kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.
Firman Allah ini tentu bisa
dielaborasi lagi, barang siapa yang menggerakkan jarinya untuk menyebar do’a
dan kata yang menentramkan dan membangun jiwa, ia akan melihat balasannya.
Sebaliknya, barang siapa yang menyebar hoaks atau pun membully orang, meskipun
hanya sekecil atom, maka ia akan melihat balasannya,
Wallahu a’lam bish shawab