Kamis, 15 Januari 2026

 

Sinkhole & Pencegahan TBC

Oleh : Dr. Nasrullah, M.Pd.

Pensiunan Guru SMA Situjuh, Alumni Program Doktor (S3) Pendidikan Islam UIN

Imam Bonjol, Padang

           Sinkhole atau peristiwa terjadinya fenomena alam berupa terbannya permukaan tanah yang terjadi di Situjuh, kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, awal tahun ini telah menimbulkan rasa ingin tahu banyak orang untuk melihat dan menganalisis mengapa hal itu terjadi. Berbagai media lokal maupun nasional telah banyak memberitakan dan mengulas peristiwa tersebut. Berbagai pendapat para ahli juga telah banyak dikemukakan.

           Dalam hal berita, sebagian besar media cetak, online dan elektronik mengemukakan berita yang hampir sama tentang kejadian tersebut. Namun, dalam hal ulasan argumentatif terdapat keragaman pendapat yang memiliki landasan ilmiah masing-masing, namun tetap dalam patokan berpikir secara ilmiah.

           Hal itu diantaranya bisa dilihat dalam artikel Dr. Sri Aisyah, S.H.I, M.H., dalam kompascom tgl.12 Januari 2026, yang menekankan pentingnya penelitian ilmiah dalam menjelaskan peristiwa tersebut dan mewanti-wanti masyarakat supaya tetap berpijak pada ilmu pengetahuan yang sudah teruji. Tidak terpengaruh terhadap hal-hal yang mistis dan diluar nalar serta logika ilmiah. Ahli geologi Sumbar, Ade Edwar, menyebutkan bahwa peristiwa itu merupakan fenomena alam yang terjadi di daerah yang dibawah permukaan tanahnya terdapat batu kapur atau gamping (Kompas com, 4-1-26). Media Melek Bencana mengemukakan secara detail tentang proses terjadinya sawah luluih atau sinkhole itu secara terperinci lengkap dengan infografis (Melek Bencana, 14 Januari 2026). Begitu juga dengan sejumlah ahli geologi yang telah mengambil sampel tanah dan air di lokasi tersebut dan menganalisisnya di laboratorium.  Bahkan, dipihak eksekutif, seperti Wakil Gubernur Sumbar Vasco Ruseimy menyatakan bahwa sinkhole itu murni peristiwa alam, tidak terkait dengan  hal-hal mistis dan penyembuhan penyakit (Langgam, 11-1-26)

            Kecepatan ataupun kesigapan para ahli atau pakar serta pejabat tersebut sangat bermanfaat dalam menjawab pertanyaan tentang mengapa fenomena itu terjadi. Sekaligus juga memberi alarm peringatan terhadap perilaku dan pemikiran yang bermuatan  mistik dan irasional.

            Secara umum, terdapat tiga sikap terhadap fenomena tersebut. Pertama adalah mencari mengapa hal itu terjadi secara ilmiah. Ini pekerjaan rumah bagi pakar atau ahli yang berkompeten. Kedua, menegaskan bahwa peristiwa itu murni proses alami dan bisa terjadi dimana saja. Sebab, Allah berbuat sekehendak-Nya. Ini merupakan ranah dari alim ulama ataupun ahli agama. Ketiga mengingatkan  masyarakat supaya tidak terpengaruh oleh hal-hal mistis yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Ini merupakan tanggung jawab pendidik dan orang cerdik pandai di tengah-tengah masyarakat.

           Usaha untuk mencari penyebab terjadinya sinkhole dan memberikan argumentasi serta fakta ilmiah tentang kejadian tersebut merupakan upaya cepat dalam mengantisipasi dan mengedukasi masyarakat tentang fenomena alam tersebut. Hal ini merupakan jawaban dari serangkaian pertanyaan dari berbagai lapisan masyarakat yang memiliki keragaman pengetahuan dan pengalaman.

            Upaya tersebut sekaligus juga mencegah berkembangnya tahyul, bid’ah dan churafat (TBC) yang dapat merusak iman umat Islam. TBC yang ikut menyebar terbawa arus deras digitalisasi harus diberantas sampai ke akar-akarnya. Sebab itu akan menjerumuskan orang pada perilaku syirik. Perilaku dosa yang tak diampuni oleh Allah SWT.

Wallahua’lam

 

 

 

Memaknai Dialog Dalam Isra’ Mikraj

Oleh : Dr. Nasrullah, M. Pd.

Pensiunan Guru SMA, Alumni Program  S3 (Doktor)  Pendidikan Islam,

UIN Imam Bonjol, Padang

           Peringatan Isra’ Mikraj tanggal 27 Rajab tahun 2025 dilaksanakan oleh kaum muslimin di seluruh penjuru tanah air. Peringatan itu pada prinsipnya adalah untuk mengambil hikmah dan menjadikan momentum tersebut sebagai pedoman dalam memecahkan permasalahan serta meningkatkan keimanan.

           Hal tersebut sangat penting diterapkan di era digital kini. Saat di mana  algoritma telah mewarnai kehidupan. Algoritma terus bergerilya dalam senyap disertai dengan pengaruh luar biasa dan melibatkan banyak orang. Keterlibatan banyak orang tersebut berpatokan pada apa yang paling disukai, apa yang paling sering diklik, apa yang paling banyak di bagikan dan apa yang paling banyak dikomentari. Semua itu berlangsung begitu cepat dan cenderung membentuk  anggapan bahwa yang paling penting adalah sesuatu yang viral. Kebenaran dan kedalaman makna kurang mendapat prioritas.   

            Kondisi di atas mempersempit ruang bertanya, artinya kesempatan untuk bertanya berkurang. Padahal, kemauan bertanya merupakan cikal bakal bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan awal bagi perkembangan perbaikan kondisi kehidupan pada masa yang akan datang.  Kemauan untuk bertanya itu juga sangat jelas tergambar dalam rangkaian peristiwa Isra’ Mikraj Nabi Muhammad.

            Hal tersebut diantaranya terlihat pada pertanyaan Nabi Musa kepada Nabi Muhammad tentang jumlah shalat yang disuruh-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, bahwa jumlah shalat yang disuruh- Nya semula adalah 50. Kemudian dikurangi. Pengurangan itu terjadi setelah dialog antara Nabi Musa dan Nabi Muhammad SAW, di mana Nabi Musa mengusulkan supaya Nabi Muhammad SAW memohon pengurangan kepada Allah. Permohonan pengurangan dikabulkan-Nya, sehingga jumlah shalat yang tadinya 50 kali dijadikan 5 kali. Ini berarti memberikan isyarat bagi pentingnya kemampuan bertanya. Pengembangan kemampuan bertanya berarti juga membuka kran  dialog untuk mencari yang terbaik. Ini menunjukkan bahwa kebiasaan bertanya sudah lama dan memiliki sejarah panjang. Bahkan jauh sebelum berkembangnya teori pendidikan modern yang membuktikan bahwa bertanya itu penting.

            Ditelusuri lebih jauh, motivasi yang tersirat dari ungkapan Nabi Musa yang bertanya kepada Nabi Muhammad tentang jumlah shalat itu bertolak dari kekhawatiran akan kemampuan umat Nabi Muhammad. Menurut Nabi Musa, umat Nabi Muhammad tidak akan sanggup mengerjakan  banyak shalat dalam setiap hari, sebab, dalam pemikiran Nabi Musa, phisik umat Nabi Muhammad lebih kecil, sehingga kurang mampu melaksanakan shalat yang banyak.  Sehingga harus dikurangi dan dikurangi lagi.

            Hal itu menunjukkan kekhawatiran berdasarkan pengalaman yang sudah ada. Pengalaman pada saat Nabi Musa menegakkan syariat agama pada masanya. Bila di tarik ke era digital sekarang, maka pola bertanya Nabi Musa memiliki kemiripan dengan situasi yang dihadapi di era digital.

           Di era digital yang penuh dengan limpahan informasi, pertanyaan yang sering muncul adalah berapa kuat orang bertahan di tengah banjir informasi, seberapa kuat orang bertahan dari kelelahan mental akibat perbandingan sosial yang tak pernah habis. Seberapa kuat orang mempertahankan kemampuan kognisi di tengah-tengah gempuran kecerdasan imitasi yang menggerogoti sistem kognitif manusia. Dan banyak lagi pertanyaan penyerta lainnya. Semua pertanyaan ini mengerucut dalam lingkup kekhawatiran umum bahwa era digital disamping memberikan berbagai kemudahan juga membentangkan jurang yang dapat menjerumuskan eksistensi manusia.

            Dalam Al Qur’an surat Al Nahl ayat 43, Allah berfirman, yang artinya :Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. Perintah Allah ini menunjukkan pentingnya bertanya kepada orang yang  memiliki pengetahuan. Perintah ini sekaligus juga memberikan peringatan bahwa bertanya kepada selain orang tidak dianjurkan. Hal ini juga mengoreksi sikap bertanya kepada mesin atau menggunakan Artificial Intelegency (AI) untuk menjawab pertanyaan dan meyakini kebenaran jawaban mesin tersebut. Kebiasaan itu harus dikoreksi ulang dan dilakukan dengan penuh kehati-hatian serta tetap berpedoman kepada pendapat orang yang berilmu pengetahuan.  Juga disebutkan dalam surat Al Anbiya ayat 7, yang artinya : Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui. Hal ini menunjukkan bahwa bertanya itu merupakan perintah dari Allah SWT. Disamping itu ilmu harus dirujuk kepada ahlinya atau pakar pada bidang masing-masing.       

            Kegiatan bertanya jelas melibatkan lebih dari satu orang. Ini berarti dalam mengemukakan pertanyaan pasti terjadi dialog. Dialog yang terjadi dalam Isra’ Mikraj itu merupakan hal yang sangat penting dan sangat perlu menjadi acuan, sebab degradasi dialog telah terjadi di mana-mana.  Dialog mengalami degradasi karena di era digital, orang lebih banyak ‘berdialog’ dengan AI. AI lebih dominan digunakan. Padahal AI itu juga ada kelemahannya, sehingga perintah- Nya , seperti yang tercantum dalam ayat di atas sangat relevan untuk mengantisipasi kelemahan AI serta memperkuat iklim dialog real antar manusia.

          Semua itu menunjukkan bahwa Allah Maha Kuasa  memberikan bekal serta petunjuk kepada umat manusia dalam memecahkan berbagai permasalahan kehidupan dan selalu mendorong manusia untuk meningkatkan keimanan kepada-Nya. Dengan demikian, hal ini akan memacu peningkatan dialog dalam  aneka literasi yang kini berkembang. Hal ini juga merupakan upaya untuk lebih memasyarakatkan dialog yang kian tergerus arus digitalisasi. Sekaligus juga semakin membumikan hikmah Israk Mikraj.

Wallahua’alam.