Sinkhole & Pencegahan TBC
Oleh : Dr. Nasrullah, M.Pd.
Pensiunan Guru SMA Situjuh, Alumni Program Doktor (S3)
Pendidikan Islam UIN
Imam Bonjol, Padang
Sinkhole atau peristiwa terjadinya fenomena alam berupa terbannya permukaan tanah yang terjadi di Situjuh, kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, awal tahun ini telah menimbulkan rasa ingin tahu banyak orang untuk melihat dan menganalisis mengapa hal itu terjadi. Berbagai media lokal maupun nasional telah banyak memberitakan dan mengulas peristiwa tersebut. Berbagai pendapat para ahli juga telah banyak dikemukakan.
Dalam
hal berita, sebagian besar media cetak, online dan elektronik mengemukakan
berita yang hampir sama tentang kejadian tersebut. Namun, dalam hal ulasan
argumentatif terdapat keragaman pendapat yang memiliki landasan ilmiah
masing-masing, namun tetap dalam patokan berpikir secara ilmiah.
Hal itu
diantaranya bisa dilihat dalam artikel Dr. Sri Aisyah, S.H.I, M.H., dalam
kompascom tgl.12 Januari 2026, yang menekankan pentingnya penelitian ilmiah
dalam menjelaskan peristiwa tersebut dan mewanti-wanti masyarakat supaya tetap
berpijak pada ilmu pengetahuan yang sudah teruji. Tidak terpengaruh terhadap
hal-hal yang mistis dan diluar nalar serta logika ilmiah. Ahli geologi Sumbar,
Ade Edwar, menyebutkan bahwa peristiwa itu merupakan fenomena alam yang terjadi
di daerah yang dibawah permukaan tanahnya terdapat batu kapur atau gamping
(Kompas com, 4-1-26). Media Melek Bencana mengemukakan secara detail tentang
proses terjadinya sawah luluih atau sinkhole itu secara terperinci lengkap
dengan infografis (Melek Bencana, 14 Januari 2026). Begitu juga dengan sejumlah
ahli geologi yang telah mengambil sampel tanah dan air di lokasi tersebut dan
menganalisisnya di laboratorium. Bahkan,
dipihak eksekutif, seperti Wakil Gubernur Sumbar Vasco Ruseimy menyatakan bahwa
sinkhole itu murni peristiwa alam, tidak terkait dengan hal-hal mistis dan penyembuhan penyakit
(Langgam, 11-1-26)
Kecepatan
ataupun kesigapan para ahli atau pakar serta pejabat tersebut sangat bermanfaat
dalam menjawab pertanyaan tentang mengapa fenomena itu terjadi. Sekaligus juga
memberi alarm peringatan terhadap perilaku dan pemikiran yang bermuatan mistik dan irasional.
Secara
umum, terdapat tiga sikap terhadap fenomena tersebut. Pertama adalah mencari
mengapa hal itu terjadi secara ilmiah. Ini pekerjaan rumah bagi pakar atau ahli
yang berkompeten. Kedua, menegaskan bahwa peristiwa itu murni proses alami dan
bisa terjadi dimana saja. Sebab, Allah berbuat sekehendak-Nya. Ini merupakan
ranah dari alim ulama ataupun ahli agama. Ketiga mengingatkan masyarakat supaya tidak terpengaruh oleh
hal-hal mistis yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Ini merupakan tanggung
jawab pendidik dan orang cerdik pandai di tengah-tengah masyarakat.
Usaha
untuk mencari penyebab terjadinya sinkhole dan memberikan argumentasi serta
fakta ilmiah tentang kejadian tersebut merupakan upaya cepat dalam
mengantisipasi dan mengedukasi masyarakat tentang fenomena alam tersebut. Hal
ini merupakan jawaban dari serangkaian pertanyaan dari berbagai lapisan masyarakat
yang memiliki keragaman pengetahuan dan pengalaman.
Upaya
tersebut sekaligus juga mencegah berkembangnya tahyul, bid’ah dan churafat
(TBC) yang dapat merusak iman umat Islam. TBC yang ikut menyebar terbawa arus
deras digitalisasi harus diberantas sampai ke akar-akarnya. Sebab itu akan
menjerumuskan orang pada perilaku syirik. Perilaku dosa yang tak diampuni oleh
Allah SWT.
Wallahua’lam
Memaknai Dialog Dalam Isra’
Mikraj
Oleh : Dr. Nasrullah, M. Pd.
Pensiunan Guru SMA, Alumni Program
S3 (Doktor) Pendidikan Islam,
UIN Imam Bonjol, Padang
Peringatan Isra’ Mikraj tanggal 27 Rajab
tahun 2025 dilaksanakan oleh kaum muslimin di seluruh penjuru tanah air.
Peringatan itu pada prinsipnya adalah untuk mengambil hikmah dan menjadikan
momentum tersebut sebagai pedoman dalam memecahkan permasalahan serta
meningkatkan keimanan.
Hal tersebut sangat penting diterapkan di era digital
kini. Saat di mana algoritma telah
mewarnai kehidupan. Algoritma terus bergerilya dalam senyap disertai dengan pengaruh
luar biasa dan melibatkan banyak orang. Keterlibatan banyak orang tersebut berpatokan
pada apa yang paling disukai, apa yang paling sering diklik, apa yang paling
banyak di bagikan dan apa yang paling banyak dikomentari. Semua itu berlangsung
begitu cepat dan cenderung membentuk anggapan
bahwa yang paling penting adalah sesuatu yang viral. Kebenaran dan kedalaman
makna kurang mendapat prioritas.
Kondisi
di atas mempersempit ruang bertanya, artinya kesempatan untuk bertanya
berkurang. Padahal, kemauan bertanya merupakan cikal bakal bagi perkembangan
ilmu pengetahuan dan awal bagi perkembangan perbaikan kondisi kehidupan pada
masa yang akan datang. Kemauan untuk bertanya
itu juga sangat jelas tergambar dalam rangkaian peristiwa Isra’ Mikraj Nabi
Muhammad.
Hal tersebut
diantaranya terlihat pada pertanyaan Nabi Musa kepada Nabi Muhammad tentang jumlah
shalat yang disuruh-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, bahwa jumlah
shalat yang disuruh- Nya semula adalah 50. Kemudian dikurangi. Pengurangan itu
terjadi setelah dialog antara Nabi Musa dan Nabi Muhammad SAW, di mana Nabi
Musa mengusulkan supaya Nabi Muhammad SAW memohon pengurangan kepada Allah.
Permohonan pengurangan dikabulkan-Nya, sehingga jumlah shalat yang tadinya 50
kali dijadikan 5 kali. Ini berarti memberikan isyarat bagi pentingnya kemampuan
bertanya. Pengembangan kemampuan bertanya berarti juga membuka kran dialog untuk mencari yang terbaik. Ini menunjukkan
bahwa kebiasaan bertanya sudah lama dan memiliki sejarah panjang. Bahkan jauh
sebelum berkembangnya teori pendidikan modern yang membuktikan bahwa bertanya
itu penting.
Ditelusuri
lebih jauh, motivasi yang tersirat dari ungkapan Nabi Musa yang bertanya kepada
Nabi Muhammad tentang jumlah shalat itu bertolak dari kekhawatiran akan
kemampuan umat Nabi Muhammad. Menurut Nabi Musa, umat Nabi Muhammad tidak akan
sanggup mengerjakan banyak shalat dalam
setiap hari, sebab, dalam pemikiran Nabi Musa, phisik umat Nabi Muhammad lebih
kecil, sehingga kurang mampu melaksanakan shalat yang banyak. Sehingga harus dikurangi dan dikurangi lagi.
Hal
itu menunjukkan kekhawatiran berdasarkan pengalaman yang sudah ada. Pengalaman
pada saat Nabi Musa menegakkan syariat agama pada masanya. Bila di tarik ke era
digital sekarang, maka pola bertanya Nabi Musa memiliki kemiripan dengan
situasi yang dihadapi di era digital.
Di
era digital yang penuh dengan limpahan informasi, pertanyaan yang sering muncul
adalah berapa kuat orang bertahan di tengah banjir informasi, seberapa kuat
orang bertahan dari kelelahan mental akibat perbandingan sosial yang tak pernah
habis. Seberapa kuat orang mempertahankan kemampuan kognisi di tengah-tengah
gempuran kecerdasan imitasi yang menggerogoti sistem kognitif manusia. Dan
banyak lagi pertanyaan penyerta lainnya. Semua pertanyaan ini mengerucut dalam
lingkup kekhawatiran umum bahwa era digital disamping memberikan berbagai
kemudahan juga membentangkan jurang yang dapat menjerumuskan eksistensi
manusia.
Dalam
Al Qur’an surat Al Nahl ayat 43, Allah berfirman, yang artinya :Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai
pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. Perintah Allah ini menunjukkan
pentingnya bertanya kepada orang yang
memiliki pengetahuan. Perintah ini sekaligus juga memberikan peringatan
bahwa bertanya kepada selain orang tidak dianjurkan. Hal ini juga mengoreksi
sikap bertanya kepada mesin atau menggunakan Artificial Intelegency (AI) untuk
menjawab pertanyaan dan meyakini kebenaran jawaban mesin tersebut. Kebiasaan itu
harus dikoreksi ulang dan dilakukan dengan penuh kehati-hatian serta tetap
berpedoman kepada pendapat orang yang berilmu pengetahuan. Juga disebutkan dalam surat Al Anbiya ayat 7,
yang artinya : Maka bertanyalah kepada
orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui. Hal ini menunjukkan bahwa
bertanya itu merupakan perintah dari Allah SWT. Disamping itu ilmu harus
dirujuk kepada ahlinya atau pakar pada bidang masing-masing.
Kegiatan
bertanya jelas melibatkan lebih dari satu orang. Ini berarti dalam mengemukakan
pertanyaan pasti terjadi dialog. Dialog yang terjadi dalam Isra’ Mikraj itu merupakan
hal yang sangat penting dan sangat perlu menjadi acuan, sebab degradasi dialog
telah terjadi di mana-mana. Dialog
mengalami degradasi karena di era digital, orang lebih banyak ‘berdialog’
dengan AI. AI lebih dominan digunakan. Padahal AI itu juga ada kelemahannya,
sehingga perintah- Nya , seperti yang tercantum dalam ayat di atas sangat
relevan untuk mengantisipasi kelemahan AI serta memperkuat iklim dialog real
antar manusia.
Semua
itu menunjukkan bahwa Allah Maha Kuasa
memberikan bekal serta petunjuk kepada umat manusia dalam memecahkan
berbagai permasalahan kehidupan dan selalu mendorong manusia untuk meningkatkan
keimanan kepada-Nya. Dengan demikian, hal ini akan memacu peningkatan dialog
dalam aneka literasi yang kini
berkembang. Hal ini juga merupakan upaya untuk lebih memasyarakatkan dialog
yang kian tergerus arus digitalisasi. Sekaligus juga semakin membumikan hikmah
Israk Mikraj.
Wallahua’alam.