Minggu, 02 Februari 2025

 

HOTS dan ANGIN

Oleh : Dr. Nasrullah, M.Pd.

Alumni Program Doktor (S3)  Pendidikan Islam

UIN Imam Bonjol Padang

            Mengembangkan kemampuan berpikir HOTS (High Order Thinking Skill) peserta didik di lembaga pendidikan merupakan kewajiban pendidik. Sebab, kemampuan berpikir ini merupakan unsur penting yang diperlukan untuk menghadapi masa depan. Masa mendatang yang di prediksi akan selalu berubah. Hal ini juga menegaskan bahwa untuk mengantisipasi perubahan dan hidup dalam zaman yang penuh dengan ketidakpastian, diperlukan keterampilan berpikir yang tergolong tingkat tinggi.

            Berbagai cara terus dikembangkan untuk menjadikan HOTS dimiliki peserta didik. Mulai dari penyiapan bahan ajar, merancang strategi pembelajaran sampai teknik untuk mengevaluasi pencapaiannya. Upaya ini akan terus dikembangkan dan disesuaikan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga ditemukan dan digunakan berbagai bahan ajar, kiat pembelajaran dan aksi atau tayangan interaktif pembelajaran, serta evaluasi pembelajaran yang bermuatan HOTS.

            Sebagai contoh dalam pelajaran ilmu pengetahuan alam, diantaranya dalam menganalisa manfaat angin. Interaksi dalam pembelajaran dengan materi ini tentu akan mendorong peserta didik untuk menemukan aspek fisika dari angin. Juga mencakup perhitungan matematis dalam hal pengukuran kecepatan dan pembuatan grafiknya. Bisa juga ditinjau dari disiplin ilmu geografi dan ilmu lainnya. Sehingga dapat mengembangkan ilmu pengetahuan ataupun menhasilkan produk baru. Bisa dalam bentuk miniatur proyek yang memanfaatkan pengetahuan tentang angin dan memberikan stimulasi untuk mengembangkan  dan memanfaatkan energi terbarukan tersebut. Hal ini akan mendorong timbulnya berbagai terobosan ataupun menghadirkan berbagai pemecahan masalah yang berkaitan dengan energi yang bisa diperbaharui tersebut.

            Upaya tersebut telah dilakukan secara optimal di ruang kelas, di laboratorium ataupun di ruang terbuka yang memungkinkan dan memudahkan serta mempercepat pemahaman maupun analisis yang mendalam tentang materi tersebut. Ini tentu mendorong peningkatan pengetahuan, kemampuan menganalisis dan pemecahan masalah peserta didik. Sangat luar biasa sekali aktivitas yang telah dirancang dan dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran dimaksud.  

            Meskipun demikian, upaya tersebut akan dapat lebih optimal jika dilengkapi dengan unsur spiritual. Dalam hal ini, fenomena angin tidak hanya dilihat sebagai sesuatu yang ada dan mengalami proses alami serta dapat dimanfaatkan manusia. Juga tidak hanya dengan melihat pergerakan angin yang dipahami sebagai aksi dan reaksi atau sebagai proses sebab akibat alamiah semata.

           Hal ini dapat dilihat dalam peristiwa angin yang mengandung api, angin yang menyulut kebakaran di Los Angeles, Amerika Serikat. Angin berapi yang dahsyat itu telah menghancurkan bangunan dan merenggut nyawa manusia serta hewan. Angin itu begitu luar biasa, kuat dan membawa api yang membakar serta meluluhlantakkan apa saja yang menjadi penghalangnya. Sehingga korban pun berjatuhan dan menimbulkan kerugian material yang tidak sedikit.

            Dari segi nomenklatur angin ataupun nama dalam diskripsi ilmu pengetahuan tentang angin, termasuk juga dalam pengembangan pola berpikir tingkat tinggi yang digalakkan, belum ditemukan atau belum ada nama angin yang mengandung api. Jadi, belum ada diskusi, analisis ataupun dialog interaktif yang membahas tentang angin yang bermuatan api itu. Berbagai nama angin yang ada dalam bahasa Indonesia, diantaranya angin darat, angin laut, angin lembah dan sebagainya. Tidak ada ungkapan angin yang mengandung api. Begitu jaga nama angin dalam bahasa asing yang umumnya merujuk kepada asal atau sifat dari angin tersebut. Jadi, nama angin dalam khazanah pengetahuan manusia umumnya berkaitan dengan asal, sifat dan akibat yang ditimbulkannya saja. Dan, nama itu juga berkembang sesuai dengan perkembangan kognitif manusia.

           Kecenderungan itu tampaknya perlu di tata ulang. Sebab, lebih dari seribu empat ratus tahun yang lalu, jauh sebelum ilmu pengetahuan manusia berkembang, dalam kitab suci sudah dikemukakan-Nya. Hal ini terdapat dalam  surat Al Baqarah ayat 266, secara jelas Allah mengatakan bahwa ada angin yang bermuatan api. Lengkapnya terjemahan ayat tersebut adalah sebagai berikut. “ Apakah salah seorang di antara kamu ingin memiliki kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, di sana dia memiliki segala macam buah-buahan. Kemudian, datanglah masa tua, sedangkan dia memiliki keturunan yang masih kecil-kecil. Lalu, kebun itu ditiup angin kencang yang mengandung api sehingga terbakar. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkannya.

            Ayat di atas menegaskan bahwa ada angin yang bermuatan api. Ini tentu berbeda dengan nama atau nomenklatur angin rekaan manusia. Dan, kebakaran di negara adi daya itu dapat menjadi pengingat  firman-Nya, dan dapat jadi alarm atas keteledoran tersebut. Ini berarti peristiwa kebakaran dahsyat itu akan mendorong pemahaman angin dengan nomenklatur kitab suci. Ini akan mendorong penggunaan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Jika penerapan hal ini dilakukan,  tentu akan menghadirkan proses dan media interaktif pembelajaran yang mengakui kekuasaan Allah di atas segalanya. Dalam konteks ini berarti upaya mengembangkan HOTS sangat tepat bila dilengkapi dengan unsur spritual.

          Unsur spritual tersebut sangat diperlukan manusia dalam rangka menjaga hubungan dengan Allah dan meyakini serta mengakui kemahakuasaan-Nya.  Ini juga mendorong pengintegrasian ilmu pengetahuan umum dan agama secara utuh. Dan pengintegrasian tersebut akan mendorong pencapaian tujuan pendidikan, yakni menjadikan insan yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Tujuan ini selalu tercantumkan undang-undang pendidikan dan senantiasa terdapat dalam tujuan pendidikan, bahkan selalu hadir dalam setiap kurikulum, meskipun kurikulum terus berganti. Wallahua’lam