HOTS dan ANGIN
Oleh : Dr. Nasrullah,
M.Pd.
Alumni Program Doktor (S3) Pendidikan Islam
UIN Imam Bonjol Padang
Berbagai
cara terus dikembangkan untuk menjadikan HOTS dimiliki peserta didik. Mulai
dari penyiapan bahan ajar, merancang strategi pembelajaran sampai teknik untuk
mengevaluasi pencapaiannya. Upaya ini akan terus dikembangkan dan disesuaikan dengan
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga ditemukan dan digunakan
berbagai bahan ajar, kiat pembelajaran dan aksi atau tayangan interaktif pembelajaran,
serta evaluasi pembelajaran yang bermuatan HOTS.
Sebagai
contoh dalam pelajaran ilmu pengetahuan alam, diantaranya dalam menganalisa
manfaat angin. Interaksi dalam pembelajaran dengan materi ini tentu akan
mendorong peserta didik untuk menemukan aspek fisika dari angin. Juga mencakup
perhitungan matematis dalam hal pengukuran kecepatan dan pembuatan grafiknya.
Bisa juga ditinjau dari disiplin ilmu geografi dan ilmu lainnya. Sehingga dapat
mengembangkan ilmu pengetahuan ataupun menhasilkan produk baru. Bisa dalam
bentuk miniatur proyek yang memanfaatkan pengetahuan tentang angin dan memberikan
stimulasi untuk mengembangkan dan
memanfaatkan energi terbarukan tersebut. Hal ini akan mendorong timbulnya
berbagai terobosan ataupun menghadirkan berbagai pemecahan masalah yang
berkaitan dengan energi yang bisa diperbaharui tersebut.
Upaya
tersebut telah dilakukan secara optimal di ruang kelas, di laboratorium ataupun
di ruang terbuka yang memungkinkan dan memudahkan serta mempercepat pemahaman
maupun analisis yang mendalam tentang materi tersebut. Ini tentu mendorong
peningkatan pengetahuan, kemampuan menganalisis dan pemecahan masalah peserta
didik. Sangat luar biasa sekali aktivitas yang telah dirancang dan dilakukan
untuk mencapai tujuan pembelajaran dimaksud.
Meskipun demikian, upaya tersebut akan dapat
lebih optimal jika dilengkapi dengan unsur spiritual. Dalam hal ini, fenomena
angin tidak hanya dilihat sebagai sesuatu yang ada dan mengalami proses alami
serta dapat dimanfaatkan manusia. Juga tidak hanya dengan melihat pergerakan
angin yang dipahami sebagai aksi dan reaksi atau sebagai proses sebab akibat alamiah
semata.
Hal ini
dapat dilihat dalam peristiwa angin yang mengandung api, angin yang menyulut
kebakaran di Los Angeles, Amerika Serikat. Angin berapi yang dahsyat itu telah
menghancurkan bangunan dan merenggut nyawa manusia serta hewan. Angin itu
begitu luar biasa, kuat dan membawa api yang membakar serta meluluhlantakkan
apa saja yang menjadi penghalangnya. Sehingga korban pun berjatuhan dan
menimbulkan kerugian material yang tidak sedikit.
Dari
segi nomenklatur angin ataupun nama dalam diskripsi ilmu pengetahuan tentang
angin, termasuk juga dalam pengembangan pola berpikir tingkat tinggi yang
digalakkan, belum ditemukan atau belum ada nama angin yang mengandung api.
Jadi, belum ada diskusi, analisis ataupun dialog interaktif yang membahas
tentang angin yang bermuatan api itu. Berbagai nama angin yang ada dalam bahasa
Indonesia, diantaranya angin darat, angin laut, angin lembah dan sebagainya.
Tidak ada ungkapan angin yang mengandung api. Begitu jaga nama angin dalam
bahasa asing yang umumnya merujuk kepada asal atau sifat dari angin tersebut.
Jadi, nama angin dalam khazanah pengetahuan manusia umumnya berkaitan dengan
asal, sifat dan akibat yang ditimbulkannya saja. Dan, nama itu juga berkembang
sesuai dengan perkembangan kognitif manusia.
Kecenderungan
itu tampaknya perlu di tata ulang. Sebab, lebih dari seribu empat ratus tahun
yang lalu, jauh sebelum ilmu pengetahuan manusia berkembang, dalam kitab suci
sudah dikemukakan-Nya. Hal ini terdapat dalam surat Al Baqarah ayat 266, secara jelas Allah
mengatakan bahwa ada angin yang bermuatan api. Lengkapnya terjemahan ayat
tersebut adalah sebagai berikut. “ Apakah salah seorang di antara kamu ingin memiliki kebun
kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, di sana dia memiliki
segala macam buah-buahan. Kemudian, datanglah masa tua, sedangkan dia memiliki
keturunan yang masih kecil-kecil. Lalu, kebun itu ditiup angin kencang yang mengandung api sehingga terbakar.
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkannya.
Ayat di
atas menegaskan bahwa ada angin yang bermuatan api. Ini tentu berbeda dengan
nama atau nomenklatur angin rekaan manusia. Dan, kebakaran di negara adi daya
itu dapat menjadi pengingat firman-Nya,
dan dapat jadi alarm atas keteledoran tersebut. Ini berarti peristiwa kebakaran
dahsyat itu akan mendorong pemahaman angin dengan nomenklatur kitab suci. Ini
akan mendorong penggunaan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Jika penerapan hal
ini dilakukan, tentu akan menghadirkan
proses dan media interaktif pembelajaran yang mengakui kekuasaan Allah di atas
segalanya. Dalam konteks ini berarti upaya mengembangkan HOTS sangat tepat bila
dilengkapi dengan unsur spritual.
Unsur spritual
tersebut sangat diperlukan manusia dalam rangka menjaga hubungan dengan Allah
dan meyakini serta mengakui kemahakuasaan-Nya. Ini juga mendorong pengintegrasian ilmu
pengetahuan umum dan agama secara utuh. Dan pengintegrasian tersebut akan mendorong
pencapaian tujuan pendidikan, yakni menjadikan insan yang beriman dan bertaqwa
kepada-Nya. Tujuan ini selalu tercantumkan undang-undang pendidikan dan senantiasa
terdapat dalam tujuan pendidikan, bahkan selalu hadir dalam setiap kurikulum, meskipun
kurikulum terus berganti. Wallahua’lam