Jumat, 31 Januari 2025

Mengukuhkan Keberadaan Buku

Mengukuhkan Keberadaan Buku

 

Oleh : Dr. Nasrullah, M.Pd.

Alumni Program Doktor (S3)  Pendidikan Islam

UIN Imam Bonjol Padang

             

            Di era digital sekarang, berbagai informasi telah hadir melalui berbagai berbagai perangkat telekomunikasi. Sehingga sangat mudah mengetahui segala sesuatu melalui You tube, tiktok, dan sebagainya. Hal ini membuat keberadaan buku sebagai sumber informasi mengalami penurunan atau menjadi terpinggirkan. Dalam ungkapan lain buku dapat dikatakan bahwa buku tak lagi dilirik.   Sehingga, jika dibandingkan antara orang yang membaca buku dengan yang melihat video pada perangkat elektronik, bagaikan membandingkan antara besarnya semut dan gajah. Artinya jumlah orang yang masih mau membaca buku hanya seberat seekor semut dan jumlah orang yang menikmati tontonan digital sebesar gajah.

            Kondisi tersebut mungkin sudah merupakan kehendak zaman, namun, mengurangi peran bahkan mengabaikan buku sebagai sumber informasi, sebenarnya akan menimbulkan berbagai akibat. Akibat itu antara lain, kurang dalamnya informasi yang diperoleh serta kurang berkembangnya imajinasi. Dalam hal ini, buku memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan tayangan digital tersebut. Keunggulan itu diantaranya dalam mendapatkan informasi secara tuntas, menghadirkan imajinasi yang kuat dan mudah digunakan. Sangat banyak perbandingan yang bisa di buat, namun keunggulan buku tetap ada.

            Disamping memiliki keunggulan tersebut, keberadaan buku juga memiliki landasan yang kokoh, khususnya dari segi agama. Dalam Al Qur’an terdapat banyak sekali perintah untuk mengkaji, mendalami dan merenungkan kekuasaan-Nya. Kuasa Allah yang sangat jelas mengatur alam semesta ini, takkan sanggup manusia menyebutkan dan menuliskannya. Dalam perintah mengkaji dan mendalami ilmu-Nya, terdapat ungkapan tinta dan pena. Tinta dan pena merupakan unsur penting dalam menulis atau membuat buku. Hal ini diantaranya dinyatakan dalam surat Al Kahfi, ayat 109, yang artinya : Katakanlah, “ Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan sebanyak itu (pula).

            Menurut Quraish Shihab, seperti yang dikemukakan dalam Tafsir Al Misbah Vol.7 hal. 384, yang menyatakan bahwa kalimat-kalimat Allah adalah apa yang menunjuk kepada ilmu-Nya dari apa yang diwahyukan-Nya kepada rasul-rasul-Nya.  Pengetahuan atau kalimat itu supaya bertahan lama atau langgeng, perlu ditulis. Untuk menulis digunakan pena dan tinta. Hasil penulisan itu tentu berupa buku, kitab atau bentuk lain yang sejenis.

            Begitu juga dalam surat Luqman, ayat 27, yang artinya : Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta) ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah  (keringnya), niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Ini menunjukkan banyaknya ilmu Allah yang tidak mampu manusia mengungkapkannya. Meskipun ditulis dengan menjadikan tumbuhan di bumi sebagai pena dan air lautan sebagai sebagai tinta. Itu belum cukup. walaupun ditambah lagi sebanyak air lautan yang ada di bumi. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu Allah tak terhingga banyaknya, tak terjangkau oleh kemampuan manusia. Ungkapan pena dan tinta dalam ayat ini menunjukkan hasil tulisan dalam bentuk buku, kitab ataupun dalam  bentuk lain yang bersamaan.

            Dengan demikian, keberadaan buku sangat jelas diisyaratkan kutipan ayat Al Qur’an tersebut. Hal ini tentu dapat menjadi pendorong dan sumber motivasi untuk terus membaca buku, menggali informasi dari buku secara detail dan mendalam. Sekaligus juga memperkokoh keberadaan buku di tengah tengah arus digitalisasi yang begitu massif.  Hal ini tentu juga akan mempersempit ruang penyebaran hoaks atau berita bohong yang bagaikan monster berkelana di dunia maya. Selamat hari buku nasional.