Kamis, 15 Januari 2026

 

Isra’ Mikraj & Kemauan Bertanya

Oleh : Dr. Nasrullah, M.Pd.

Pensiunan Guru SMA, Alumni Program Doktor (S3) Pendidikan Islam UIN

Imam Bonjol, Padang

            Peringatan Isra’ Mikraj tanggal 27 Rajab tahun 2025 dilaksanakan oleh kaum muslimin di seluruh penjuru tanah air. Peringatan itu pada prinsipnya adalah untuk mengambil hikmah dan menjadikan momentum tersebut sebagai pedoman dalam memecahkan permasalahan serta meningkatkan keimanan.

           Hal tersebut sangat penting diterapkan di era digital kini. Saat di mana  algoritma telah mewarnai kehidupan. Algoritma terus bergerilya dalam senyap disertai dengan pengaruh luar biasa dan melibatkan banyak orang. Keterlibatan banyak orang tersebut berpatokan pada apa yang paling disukai, apa yang paling sering diklik, apa yang paling banyak di bagikan dan apa yang paling banyak dikomentari. Semua itu berlangsung begitu cepat dan cenderung membentuk  anggapan bahwa yang paling penting adalah sesuatu yang viral. Kebenaran dan kedalaman makna kurang mendapat prioritas.  

            Kondisi di atas mempersempit ruang bertanya, artinya kesempatan untuk bertanya berkurang. Padahal, kemauan bertanya merupakan cikal bakal bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan awal bagi perkembangan perbaikan kondisi kehidupan pada masa yang akan datang.  Kemauan untuk bertanya itu juga sangat jelas tergambar dalam rangkaian peristiwa Isra’ Mikraj Nabi Muhammad.

            Hal tersebut diantaranya terlihat pada pertanyaan Nabi Musa kepada Nabi Muhammad tentang jumlah shalat yang disuruh-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih Bukhari no 3598, bahwa jumlah shalat yang disuruh- Nya semula adalah 50. Kemudian dikurangi.

          Pengurangan itu terjadi setelah tanya jawab antara Nabi Musa dan Nabi Muhammad SAW, di mana Nabi Musa mengusulkan supaya Nabi Muhammad SAW memohon pengurangan kepada Allah. Permohonan pengurangan dikabulkan-Nya, sehingga jumlah shalat yang tadinya 50 kali dijadikan 5 kali. Ini berarti memberikan isyarat bagi pentingnya kemampuan bertanya. Pengembangan kemampuan bertanya berarti juga membuka kran tanya jawab untuk mencari yang terbaik. Ini menunjukkan bahwa kebiasaan bertanya sudah lama dan memiliki sejarah panjang. Bahkan jauh sebelum berkembangnya teori pendidikan modern yang membuktikan bahwa bertanya itu penting.

            Ditelusuri lebih jauh, motivasi yang tersirat dari ungkapan Nabi Musa yang bertanya kepada Nabi Muhammad tentang jumlah shalat itu bertolak dari kekhawatiran akan kemampuan umat Nabi Muhammad. Menurut Nabi Musa, umat Nabi Muhammad tidak akan sanggup mengerjakan  banyak shalat dalam setiap hari, sebab, dalam pemikiran Nabi Musa, phisik umat Nabi Muhammad lebih kecil, sehingga kurang mampu melaksanakan shalat yang banyak.  Sehingga harus dikurangi dan dikurangi lagi.

            Hal itu menunjukkan kekhawatiran berdasarkan pengalaman yang sudah ada. Pengalaman pada saat Nabi Musa menegakkan syariat agama pada masanya. Bila di tarik ke era digital sekarang, maka pola bertanya Nabi Musa memiliki kemiripan dengan situasi yang dihadapi di era digital. Di era digital yang penuh dengan limpahan informasi, pertanyaan yang sering muncul adalah berapa kuat orang bertahan di tengah banjir informasi, seberapa kuat orang bertahan dari kelelahan mental akibat perbandingan sosial yang tak pernah habis. Seberapa kuat orang mempertahankan kemampuan kognisi di tengah-tengah gempuran kecerdasan imitasi yang menggerogoti sistem kognitif manusia. Dan banyak lagi pertanyaan penyerta lainnya. Semua pertanyaan ini mengerucut dalam lingkup kekhawatiran umum bahwa era digital disamping memberikan berbagai kemudahan juga membentangkan jurang yang dapat menjerumuskan eksistensi manusia.