Isra’ Mikraj & Kemauan
Bertanya
Oleh : Dr. Nasrullah, M.Pd.
Pensiunan Guru SMA, Alumni Program Doktor (S3) Pendidikan Islam
UIN
Imam Bonjol, Padang
Hal
tersebut sangat penting diterapkan di era digital kini. Saat di mana algoritma telah mewarnai kehidupan. Algoritma
terus bergerilya dalam senyap disertai dengan pengaruh luar biasa dan
melibatkan banyak orang. Keterlibatan banyak orang tersebut berpatokan pada apa
yang paling disukai, apa yang paling sering diklik, apa yang paling banyak di
bagikan dan apa yang paling banyak dikomentari. Semua itu berlangsung begitu
cepat dan cenderung membentuk anggapan
bahwa yang paling penting adalah sesuatu yang viral. Kebenaran dan kedalaman
makna kurang mendapat prioritas.
Kondisi
di atas mempersempit ruang bertanya, artinya kesempatan untuk bertanya
berkurang. Padahal, kemauan bertanya merupakan cikal bakal bagi perkembangan
ilmu pengetahuan dan awal bagi perkembangan perbaikan kondisi kehidupan pada
masa yang akan datang. Kemauan untuk
bertanya itu juga sangat jelas tergambar dalam rangkaian peristiwa Isra’ Mikraj
Nabi Muhammad.
Hal
tersebut diantaranya terlihat pada pertanyaan Nabi Musa kepada Nabi Muhammad
tentang jumlah shalat yang disuruh-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits
shahih Bukhari no 3598, bahwa jumlah shalat yang disuruh- Nya semula adalah 50.
Kemudian dikurangi.
Pengurangan
itu terjadi setelah tanya jawab antara Nabi Musa dan Nabi Muhammad SAW, di mana
Nabi Musa mengusulkan supaya Nabi Muhammad SAW memohon pengurangan kepada
Allah. Permohonan pengurangan dikabulkan-Nya, sehingga jumlah shalat yang
tadinya 50 kali dijadikan 5 kali. Ini berarti memberikan isyarat bagi
pentingnya kemampuan bertanya. Pengembangan kemampuan bertanya berarti juga
membuka kran tanya jawab untuk mencari yang terbaik. Ini menunjukkan bahwa
kebiasaan bertanya sudah lama dan memiliki sejarah panjang. Bahkan jauh sebelum
berkembangnya teori pendidikan modern yang membuktikan bahwa bertanya itu
penting.
Ditelusuri
lebih jauh, motivasi yang tersirat dari ungkapan Nabi Musa yang bertanya kepada
Nabi Muhammad tentang jumlah shalat itu bertolak dari kekhawatiran akan
kemampuan umat Nabi Muhammad. Menurut Nabi Musa, umat Nabi Muhammad tidak akan
sanggup mengerjakan banyak shalat dalam
setiap hari, sebab, dalam pemikiran Nabi Musa, phisik umat Nabi Muhammad lebih
kecil, sehingga kurang mampu melaksanakan shalat yang banyak. Sehingga harus dikurangi dan dikurangi lagi.
Hal
itu menunjukkan kekhawatiran berdasarkan pengalaman yang sudah ada. Pengalaman
pada saat Nabi Musa menegakkan syariat agama pada masanya. Bila di tarik ke era
digital sekarang, maka pola bertanya Nabi Musa memiliki kemiripan dengan
situasi yang dihadapi di era digital. Di era digital yang penuh dengan limpahan
informasi, pertanyaan yang sering muncul adalah berapa kuat orang bertahan di
tengah banjir informasi, seberapa kuat orang bertahan dari kelelahan mental
akibat perbandingan sosial yang tak pernah habis. Seberapa kuat orang
mempertahankan kemampuan kognisi di tengah-tengah gempuran kecerdasan imitasi
yang menggerogoti sistem kognitif manusia. Dan banyak lagi pertanyaan penyerta
lainnya. Semua pertanyaan ini mengerucut dalam lingkup kekhawatiran umum bahwa
era digital disamping memberikan berbagai kemudahan juga membentangkan jurang
yang dapat menjerumuskan eksistensi manusia.