Sabtu, 29 Agustus 2026

 

IDOLA ORANG LAPAR

Oleh : Dr. Nasrullah, M.Pd.

            Menurut data statistik, seperti yang dikemukakan oleh BPS, pada akhir maret 2026, jumlah penduduk miskin di Indonesia turun menjadi 8.07 % atau setara dengan 22,93 juta orang. Penurunan angka kemiskinan ini merupakan keberhasilan pembangunan yang cukup membanggakan. Sekaligus juga menunjukkan semakin efektifnya usaha penanggulangan kemiskinan yang dilakukan oleh pihak yang berkompeten.

            Meskipun demikian, angka yang menunjukkan bahwa masih ada lebih dari 22 juta orang yang masih tergolong miskin, merupakan kenyataan yang harus diperjuangkan lagi, harus ditingkatkan usaha untuk memperkecil jumlahnya, kalau belum bisa menghilangkannya sama sekali.

            Upaya mengurangi jumlah orang yang termasuk kategori miskin itu merupakan perjuangan yang bisa diamati dan juga dapat dimotivasi dengan mencontoh cara Nabi. Upaya Rasul itu diantaranya dalam sikap menghadapi situasi ketika makanan tidak ada di rumah.   Contoh ini dikemukakan karena mereka yang masuk kelompok 22, 9 juta orang itu, kemungkinan besar tidak dapat menyediakan makanan di rumahnya setiap hari. Bahkan mungkin rumah yang layakpun belum punya.

            Menghadapi situasi ketika makanan tidak ada di rumah, Nabi SAW memberikan keteladanan yang pantas ditiru. Keteladanan itu terdapat dalam hadist. Menurut hadist Nabi, seperti yang terdapat dalam shahih Bukhari no. 1154, hadist yang diriwayatkan Aisyah ini menceritakan bahwa suatu hari Nabi SAW, bertanya kepada Aisyah, “ Apakah ada makanan? Aisyah menjawab, tidak ada ya Rasululah. Kemudian beliau berkata : “Kalau begitu, saya berpuasa. Hadist ini menjadi dalil dibolehkannya puasa ketika makanan tidak ada. Menurut ulama, dengan berpedoman pada hadist ini, dibolehkan berniat puasa sunat   pada siang hari selama seseorang belum melakukan hal yang membatalkan puasa sebelumnya.

            Keteladanan Nabi SAW ini merupakan penguat semangat bagi mereka yang setiap hari susah mendapatkan makanan. Sebab, pada satu sisi. ketika makanan tidak ada, ternyata amal bisa dilakukan. Mencontoh keteladanan yang ditunjukkan Nabi SAW, merupakan salah satu upaya untuk menjadikannya sebagai idola. Dengan demikian, Nabi SAW dapat menjadi idola bagi berbagai lapisan masyarakat. Apalagi, Nabi SAW, menjalani berbagai posisi. Ia pernah jadi kepala keluarga dan kepala Negara. Ia pernah ditawari harta yang berlimpah, tahta atau menjadi raja yang dihormati orang Quraish.

Berdasarkan sikap dan perilaku yang ditunjukkan beliau ketika memegang tampuk kekuasaan, ketika mendidik pengikutnya, ketika menjadi hakim pada perselisihan kaumnya, dan sebagainya. Maka Nabi SAW merupakan idola dari berbagai kalangan. Ia menjadi idola pemegang kekuasaan, menjadi idola penuntut ilmu. menjadi idola pedagang dan dapat menjadi idola berbagai lapisan masysrakat yang percaya kepada Allah SWT.

Menjadikan Nabi SAW, sebagai idola tersebut merupakan tantangan berat yang harus dilakukan setelah lebih dari 14 abad, beliau meninggalkan kita. Dan ini juga merupakan refleksi dalam memperingati kelahiran Nabi pada tanggal 12 Rabilulawal 1448 H. Sekaligus juga menjadi penghibur duka lara warga bangsa yang masih merasakan kelaparan, warga bangsa yang masih merasakan pahit getirnya kemiskinan.   

Wallahua’lam.

Penulis : Pensiunan Guru SMA Situjuh, Kab 50 Kota, Sumbar.

Alumni Program Doktor (S3)  Pendidikan Islam UIN Imam Bonjol Padang