IDOLA ORANG LAPAR
Oleh : Dr. Nasrullah,
M.Pd.
Menurut
data statistik, seperti yang dikemukakan oleh BPS, pada akhir maret 2026,
jumlah penduduk miskin di Indonesia turun menjadi 8.07 % atau setara dengan
22,93 juta orang. Penurunan angka kemiskinan ini merupakan keberhasilan pembangunan
yang cukup membanggakan. Sekaligus juga menunjukkan semakin efektifnya usaha
penanggulangan kemiskinan yang dilakukan oleh pihak yang berkompeten.
Meskipun
demikian, angka yang menunjukkan bahwa masih ada lebih dari 22 juta orang yang
masih tergolong miskin, merupakan kenyataan yang harus diperjuangkan lagi,
harus ditingkatkan usaha untuk memperkecil jumlahnya, kalau belum bisa
menghilangkannya sama sekali.
Upaya
mengurangi jumlah orang yang termasuk kategori miskin itu merupakan perjuangan
yang bisa diamati dan juga dapat dimotivasi dengan mencontoh cara Nabi. Upaya
Rasul itu diantaranya dalam sikap menghadapi situasi ketika makanan tidak ada
di rumah. Contoh ini dikemukakan karena mereka yang
masuk kelompok 22, 9 juta orang itu, kemungkinan besar tidak dapat menyediakan makanan
di rumahnya setiap hari. Bahkan mungkin rumah yang layakpun belum punya.
Menghadapi
situasi ketika makanan tidak ada di rumah, Nabi SAW memberikan keteladanan yang
pantas ditiru. Keteladanan itu terdapat dalam hadist. Menurut hadist Nabi,
seperti yang terdapat dalam shahih Bukhari no. 1154, hadist yang diriwayatkan
Aisyah ini menceritakan bahwa suatu hari Nabi SAW, bertanya kepada Aisyah, “
Apakah ada makanan? Aisyah menjawab, tidak ada ya Rasululah. Kemudian beliau
berkata : “Kalau begitu, saya berpuasa. Hadist ini menjadi dalil dibolehkannya
puasa ketika makanan tidak ada. Menurut ulama, dengan berpedoman pada hadist
ini, dibolehkan berniat puasa sunat pada
siang hari selama seseorang belum melakukan hal yang membatalkan puasa
sebelumnya.
Keteladanan
Nabi SAW ini merupakan penguat semangat bagi mereka yang setiap hari susah
mendapatkan makanan. Sebab, pada satu sisi. ketika makanan tidak ada, ternyata
amal bisa dilakukan. Mencontoh keteladanan yang ditunjukkan Nabi SAW, merupakan
salah satu upaya untuk menjadikannya sebagai idola. Dengan demikian, Nabi SAW
dapat menjadi idola bagi berbagai lapisan masyarakat. Apalagi, Nabi SAW, menjalani
berbagai posisi. Ia pernah jadi kepala keluarga dan kepala Negara. Ia pernah
ditawari harta yang berlimpah, tahta atau menjadi raja yang dihormati orang
Quraish.
Berdasarkan sikap dan perilaku
yang ditunjukkan beliau ketika memegang tampuk kekuasaan, ketika mendidik
pengikutnya, ketika menjadi hakim pada perselisihan kaumnya, dan sebagainya. Maka
Nabi SAW merupakan idola dari berbagai kalangan. Ia menjadi idola pemegang
kekuasaan, menjadi idola penuntut ilmu. menjadi idola pedagang dan dapat
menjadi idola berbagai lapisan masysrakat yang percaya kepada Allah SWT.
Menjadikan Nabi SAW, sebagai
idola tersebut merupakan tantangan berat yang harus dilakukan setelah lebih
dari 14 abad, beliau meninggalkan kita. Dan ini juga merupakan refleksi dalam
memperingati kelahiran Nabi pada tanggal 12 Rabilulawal 1448 H. Sekaligus juga
menjadi penghibur duka lara warga bangsa yang masih merasakan kelaparan, warga
bangsa yang masih merasakan pahit getirnya kemiskinan.
Wallahua’lam.
Penulis : Pensiunan Guru SMA Situjuh, Kab 50 Kota,
Sumbar.
Alumni Program Doktor (S3) Pendidikan Islam UIN Imam Bonjol Padang