TERINGAT BANI ISRAIL
Oleh : Dr. Nasrullah,
M.Pd.
Pekerjaan
mengupas bawang menjadi profesi yang terkenal setelah Presiden Prabowo Subianto
menyebutkannya dalam pidato kenegaraan tanggal 14 Agustus 2026, di gedung
MPR/DPR. Presiden menyebut Susana sebagai pengupas bawang yang memiliki
penghasilan lumayan. Meskipun ada ralat
tentang penghasilan pengupas bawang tersebut, namun jejak digital dari ungkapan
tersebut masih jelas dan ternyata memiliki banyak manfaat.
Manfaat tersebut paling sedikit ada tiga,
yakni : 1). Membuka suka duka kehidupan pengupas bawang ke ruang publik. 2).
Menunjukkan keberpihakan kepala negara pada rakyat lapisan terbawah. 3).
Membuka peluang untuk menggali manfaat bawang dari aspek spiritual. Ketiga
manfaat ini saling terkait dan secara garis besarnya menunjukkan salah satu “wajah”
Indonesia setelah 81 tahun merdeka.
Untuk
manfaat pertama, dapat dilihat dari pemberitaan media cetak maupun media online
yang mengungkapkan sisi kehidupan pengupas bawang di berbagai daerah atau di
berbagai pasar di pelosok tanah air. Diantaranya dalam Kompas com tgl. 19 Agt.
26 yang menelisik kehidupan Sukinem, sebagai pengupas bawang di pasar Legi,
Solo dengan upah Rp. 600 per kg. Begitu juga dengan berbagai media lainnya.
Gencarnya media memberitakan atau riuh rendahnya ungkapan di media sosial yang
membicarakan penghasilan pengupas bawang, menunjukkan dua hal, pertama :
mengangkat suka duka kehidupan pengupas bawang supaya lebih mendapat perhatian
dari pihak yang berwenang. Kedua : merupakan isyarat atau peringatan pada
pembantu presiden, supaya selalu memberikan data yang benar.
Kemudian
manfaat kedua, yakni menunjukkan perhatian Presiden Prabowo pada rakyatnya yang
masih susah. Dalam deretan panjang pejabat, mulai dari pejabat biasa sampai
pejabat tinggi, jarang atau sulit ditemukan mereka yang membicarakan kehidupan
rakyat kecil di forum kenegaraan resmi.
Pembicaraan paling dominan selalu berkisar tentang keberhasilan, kesuksesan
atau dari segala sesuatu yang bersifat mercusuar dan menimbulkan kebanggaan.
Presiden Prabowo sebagai kepala negara telah merintis dan melakukan hal sangat
jarang atau sulit ditemukan.
Sedangkan manfaat ke tiga, berkaitan dengan aspek spiritual. Hal ini
tidak bisa disangkal, sebab, dalam Al Qur’an, surat Al Baqarah ayat 61, Allah
menyebutkan tentang bawang. Terjemahan dari ayat ini adalah : “Dan ketika
kamu berkata, ‘Wahai Musa! Kami tidak tahan hanya dengan satu macam makanan.
Maka mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia mengeluarkan bagi kami dari
apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya. Musa menjawab, 'Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk
sebagai ganti dari sesuatu yang baik? Pergilah ke suatu kota, pasti kamu akan
memperoleh apa yang kamu minta.' Kemudian, mereka ditimpa kenistaan dan
kemiskinan, dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah...".
Menurut
ahli tafsir, ayat ini merupakan ucapan yang berasal dari bani Israil pada masa
Nabi Musa, ketika mereka tengah kelaparan di padang Tih (Sinai). Dalam tafsir
Al Azhar, jilid I, hal. 200, karya Hamka, disebutkan bahwa pada pangkal ayat 61
di atas, menunjukkan kekecilan jiwa dan kemanjaan Bani Israil. Mereka sudah
diberi jaminan makanan yang baik, yakni : manna dan salwa. Manna itu manis,
semanis madu dan daging burung salwa, yang empuk dan lezat. Dengan demikian
mereka tidak usah menyusahkan lagi makanan lain pada tanah kering dan tidak
subur dan tidak dapat ditanami.
Begitu
juga dalam tafsir Al Misbah, vo. I, hal, 253, karya M. Quraish Shihab, dijelaskan
bahwa ayat ini merupakan peringatan Allah kepada Bani Israil. Peringatan ini
lebih keras, bahkan berupa kecaman bagi mereka yang meremehkan nikmat Allah,
sehingga mengakibatkan keadaan mereka berubah dari nikmat menjadi bencana.
Dengan demikian, hal itu berawal dari
ketidakpuasan terhadap makanan atau nikmat yang telah diterima, mereka menyuruh
Nabi Musa meminta makanan lagi. Namun
menurut Nabi Musa, permintaan itu lebih rendah nilainya dari pemberian Allah
sebelumnya. Hal itu terungkap dari kata Nabi Musa, berupa pertanyaan, Apakah kamu meminta yang lebih buruk sebagai
ganti dari yang lebih baik?, seperti yang terdapat dalam ayat di atas. Ini
menunjukkan bahwa mereka tidak mensyukuri nikmat. Akibat tidak mensyukuri
nikmat tersebut, mereka dimurkai Allah, sehingga mendapat bencana dan kehinaan.
Dengan
demikian, meskipun bawang tidak termasuk kebutuhan pokok, namun, pembicaraan
tentang rempah ini, telah membentangkan tikar yang bertabur manfaat, manfaat
perlunya mengambil sesuatu yang positif dan berguna dari kesalahan ucapan
sesorang. Disamping itu juga mengingatkan pada perilaku bani Israil. Dan, yang paling penting adalah mensyukuri nikmat Allah. Mensyukuri
nikmat Allah, semoga kehinaan yang
menimpa bani Israil tidak melanda negara kita.
Selamat merayakan ulang tahun kemerdekaan Indonesia.
Wallahua’lam.
Penulis : Pensiunan Guru SMA Situjuh, Kab 50 Kota,
Sumbar.
Alumni Program Doktor (S3) Pendidikan Islam UIN Imam Bonjol Padang