Rabu, 26 Agustus 2026

 

TERINGAT BANI ISRAIL

Oleh : Dr. Nasrullah, M.Pd.

            Pekerjaan mengupas bawang menjadi profesi yang terkenal setelah Presiden Prabowo Subianto menyebutkannya dalam pidato kenegaraan tanggal 14 Agustus 2026, di gedung MPR/DPR. Presiden menyebut Susana sebagai pengupas bawang yang memiliki penghasilan lumayan.  Meskipun ada ralat tentang penghasilan pengupas bawang tersebut, namun jejak digital dari ungkapan tersebut masih jelas dan ternyata memiliki banyak manfaat.

            Manfaat tersebut paling sedikit ada tiga, yakni : 1). Membuka suka duka kehidupan pengupas bawang ke ruang publik. 2). Menunjukkan keberpihakan kepala negara pada rakyat lapisan terbawah. 3). Membuka peluang untuk menggali manfaat bawang dari aspek spiritual. Ketiga manfaat ini saling terkait dan secara garis besarnya menunjukkan salah satu “wajah” Indonesia setelah 81 tahun merdeka.

            Untuk manfaat pertama, dapat dilihat dari pemberitaan media cetak maupun media online yang mengungkapkan sisi kehidupan pengupas bawang di berbagai daerah atau di berbagai pasar di pelosok tanah air. Diantaranya dalam Kompas com tgl. 19 Agt. 26 yang menelisik kehidupan Sukinem, sebagai pengupas bawang di pasar Legi, Solo dengan upah Rp. 600 per kg. Begitu juga dengan berbagai media lainnya. Gencarnya media memberitakan atau riuh rendahnya ungkapan di media sosial yang membicarakan penghasilan pengupas bawang, menunjukkan dua hal, pertama : mengangkat suka duka kehidupan pengupas bawang supaya lebih mendapat perhatian dari pihak yang berwenang. Kedua : merupakan isyarat atau peringatan pada pembantu presiden, supaya selalu memberikan data yang benar.

            Kemudian manfaat kedua, yakni menunjukkan perhatian Presiden Prabowo pada rakyatnya yang masih susah. Dalam deretan panjang pejabat, mulai dari pejabat biasa sampai pejabat tinggi, jarang atau sulit ditemukan mereka yang membicarakan kehidupan rakyat kecil di forum kenegaraan  resmi. Pembicaraan paling dominan selalu berkisar tentang keberhasilan, kesuksesan atau dari segala sesuatu yang bersifat mercusuar dan menimbulkan kebanggaan. Presiden Prabowo sebagai kepala negara telah merintis dan melakukan hal sangat jarang atau sulit ditemukan.

            Sedangkan manfaat ke tiga, berkaitan dengan aspek spiritual. Hal ini tidak bisa disangkal, sebab, dalam Al Qur’an, surat Al Baqarah ayat 61, Allah menyebutkan tentang bawang. Terjemahan dari ayat ini adalah :   “Dan ketika kamu berkata, ‘Wahai Musa! Kami tidak tahan hanya dengan satu macam makanan. Maka mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya. Musa menjawab, 'Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik? Pergilah ke suatu kota, pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu minta.' Kemudian, mereka ditimpa kenistaan dan kemiskinan, dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah...".

            Menurut ahli tafsir, ayat ini merupakan ucapan yang berasal dari bani Israil pada masa Nabi Musa, ketika mereka tengah kelaparan di padang Tih (Sinai). Dalam tafsir Al Azhar, jilid I, hal. 200, karya Hamka, disebutkan bahwa pada pangkal ayat 61 di atas, menunjukkan kekecilan jiwa dan kemanjaan Bani Israil. Mereka sudah diberi jaminan makanan yang baik, yakni : manna dan salwa. Manna itu manis, semanis madu dan daging burung salwa, yang empuk dan lezat. Dengan demikian mereka tidak usah menyusahkan lagi makanan lain pada tanah kering dan tidak subur dan tidak dapat ditanami. 

            Begitu juga dalam tafsir Al Misbah, vo. I, hal, 253, karya M. Quraish Shihab, dijelaskan bahwa ayat ini merupakan peringatan Allah kepada Bani Israil. Peringatan ini lebih keras, bahkan berupa kecaman bagi mereka yang meremehkan nikmat Allah, sehingga mengakibatkan keadaan mereka berubah dari nikmat menjadi bencana.

           Dengan demikian, hal itu berawal dari ketidakpuasan terhadap makanan atau nikmat yang telah diterima, mereka menyuruh Nabi Musa meminta makanan lagi.  Namun menurut Nabi Musa, permintaan itu lebih rendah nilainya dari pemberian Allah sebelumnya. Hal itu terungkap dari kata Nabi Musa, berupa pertanyaan, Apakah kamu meminta yang lebih buruk sebagai ganti dari yang lebih baik?, seperti yang terdapat dalam ayat di atas. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak mensyukuri nikmat. Akibat tidak mensyukuri nikmat tersebut, mereka dimurkai Allah, sehingga mendapat bencana dan kehinaan.

            Dengan demikian, meskipun bawang tidak termasuk kebutuhan pokok, namun, pembicaraan tentang rempah ini, telah membentangkan tikar yang bertabur manfaat, manfaat perlunya mengambil sesuatu yang positif dan berguna dari kesalahan ucapan sesorang. Disamping itu juga mengingatkan pada perilaku bani Israil. Dan, yang paling penting adalah mensyukuri nikmat Allah. Mensyukuri nikmat Allah, semoga  kehinaan yang menimpa bani Israil tidak melanda negara kita.

Selamat merayakan ulang tahun kemerdekaan Indonesia.

Wallahua’lam.

Penulis : Pensiunan Guru SMA Situjuh, Kab 50 Kota, Sumbar.

Alumni Program Doktor (S3)  Pendidikan Islam UIN Imam Bonjol Padang